12 October 2016

Perhatikan Beberapa Hal Berikut Ini Demi Ngayogjazz 2016 yang Lebih Seru

  2 comments
Do's Don'ts Ngayogjazz 2016

Panggung musik jazz yang mengusung berbagai kearifan lokal sekaligus mempromosikan berbagai potensi desa wisata di Yogyakarta dan sekitarnya akan memasuki babak ke-10 tahun ini. Ngayogjazz 2016 - Hamemangun Karyenak Jazzing Sasama.

***

Tahun ini adalah tahun ke-5 saya tinggal di Jogja. 3 tahun kuliah, sisanya digunakan untuk mencari jati diri (sampai sekarang). Dan selama itu, saya berkesempatan menghadiri Ngayogjazz (sebagai pengunjung tentunya, bukan sebagai pihak penyelenggara, apalagi artist hehehehe) sebanyak 3 kali (2013, 2014, 2015). Satu kata yang dapat mewakili itu semua adalah fantastis.

Ngayogjazz bukan merupakan panggung jazz yang diselenggarakan di gedung mewah berkursi empuk dengan harga tiket sekian puluh atau ratus ribu. Pagelaran musik jazz yang satu ini diselenggarakan agak jauh dari pusat kota Jogja, panggung di tengah-tengah dusun, dan hamparan sawah akan menyambut semua orang yang ingin menghadiri Ngayogjazz. It's pretty cool, isn't it?

Namun semua itu akan terasa kurang sempurna kalau kamu kurang mempersiapkan kehadiranmu di Ngayogjazz. Apa saja sih yang harus dipersiapkan?

Do’s

1. Pakai sandal jepit. November adalah bulan di mana hari-hari dipenuhi awan gelap dan rintik hujan. 3 kali saya ke Ngayogjazz, tiga-tiganya selalu hujan. Sayangi sepatumu, sayangi kesehatanmu.
2. Bawa jas hujan. Jangan sampai hujan menghalangimu untuk menikmati pagelaran yang satu ini. Menonton sebuah panggung di Ngayogjazz lengkap dengan satu set jas hujan bukan suatu hal yang tabu lagi. :p
3. Siapkan uang cash secukupnya. Sudah saya katakan di atas bahwa Ngayogjazz akan lumayan jauh dari kota, dan pasti ATM akan susah ditemukan. Bawa uang yang sekiranya cukup untuk bayar parkir, beli jajan/makan, beli air minum, dan jangan lupa beli merchandise Ngayogjazz! Nggak perlu lah bawa uang cash yang cukup buat beli Honda Jazz.
4. Isi penuh baterai smartphone kamu. Nyari ATM aja susah, apalagi nyari colokan bersahabat dengan para pengguna smartphone. Lebih baik charge sampai penuh dulu smartphone-mu sebelum berangkat ke Ngayogjazz.

Don’ts

1. Minimalisir pemakaian payung. Sebenarnya bukan tidak boleh, sih. Saya menyarankan saja supaya tidak menggunakan payung selama Ngayogjazz ini. Payung kan letaknya di atas kita, tingginya panggung juga nggak seberapa, kasihan orang yang di belakang kita jika kita memakai payung. Ya kan? Lagian lebih asyik pakai jas hujan kok. :D
2. Nggak usah bawa kamera. Kalau memang cuma buat gaya-gayaan atau selfie-selfie, mending pakai kamera ponsel saja. Kameramu nantinya malah bakalan bikin kamu ribet sendiri saat menonton panggung yang lagi ramai-ramainya.
3. Jangan bawa makanan/minuman. Bawa jajan sendiri cuma berat-beratin tas kamu aja. Nggak ada salahnya dateng ke Ngayogjazz sambil nyicipin jajanan/makanan khas yang dijual oleh warga-warga. Enak-enak lho. Dan juga, kembang desanya, ehem…
4. Jangan merokok saat menonton panggung. Kasian penonton yang lain kalau kamu merokok pas panggung lagi rame-ramenya dan kamu di tengah-tengah mereka. Kalau merokok pas lagi di warung mah nggak papa. :D

Inget ya do’s and don’ts di atas. Jangan lupa kasih tau teman-teman kamu yang mau nonton Ngayogjazz 2016 juga. Demi Ngayogjazz 2016 yang lebih seru. \o/


NB: Kalau kamu punya do’s atau don’ts lainnya, tulis aja di kolom komentar. 

17 September 2016

Perkenalkan

  6 comments
Divisi Area #FKY28

Ajeng, Bella, Niko. Trio ceriwis. Selama #FKY28 berlangsung, mereka ini kerjanya cuma bisa duduk dan ngomong aja. Yaiya, mereka kan jadi tukang jaga Pusat Informasi. Informasi tentang jadwal pementasan hari itu, promosi tenant, info kehilangan, semua mereka yang atur. Selain bertugas sebagai Pusat Informasi, mereka juga bertugas sebagai Pusat Gosip bagi anak-anak Divisi Area. Hm.

Brian, Erika, Mimin, Ucup, Windy. Crowd Control! Tugas utama kita ada dua; pertama sebagai checker (counter) pengunjung #FKY28 setiap harinya, dan sebagai pengatur lalu lintas pengunjung. Ada saat di mana #FKY28 dibanjiri puluhan ribu pengunjung dan pasti akan sangat crowded di titik tertentu, di situlah crowd control bekerja.

Fitri, Indra, Wawa. Sore bertugas sebagai penjaga Playground (tempat bermain anak-anak), malam serabutan. Apa aja dilakuin kalau malam. Tapi mereka lebih sering sih bantuin Crowd Control. Walaupun umur mereka sudah tidak lagi terlalu muda, tapi muka mereka selalu ceria. Yaiya, tiap sore main sama anak kecil. :p

Bayu, Inu, Joko, Luki, Nurul, Pandhu, Surya. Sore bertugas mengarahkan pengunjung #FKY28 ke kantong parkir yang sudah disediakan, malam bertugas sebagai intel (please, don’t tell anyone. Please, just don’t!). Mereka ini Power Ranger #FKY28. Menjaga keamanan dan perdamaian selama event berlangsung. Oke lebay. Maaf. Mereka adalah Keamanan. Tangguh, siap tempur, dan anti baper. Pokoknya mereka ini keamanan paling hebat selama #FKY28. Salut!

Haydar, Haski, Wahyu, Tingting. Kalau kalian pernah berfikir “Ini #FKY28 bersih ya. Jarang ada sampah di sembarang tempat, jadi nyaman” nah itu semua karena ulah mereka berempat. Dinamakan sebagai Support, tugas utama mereka adalah memungut sampah yang ditinggalkan pengunjung dengan segera dan ditempatkan di tempat yang seharusnya. Selain itu, mereka juga selalu memastikan bahwa trash bag yang tersedia tidak sampai kelebihan muatan. Bayangkan #FKY28 tanpa mereka…

Rere, Dita, Yana, Didon. Semuanya saya panggil Mas/Mbak. Mereka ini the one and only. Eh, the four and only. Eh, gimana ya? Baik, nggak usah dipikir lagi. Mereka berempat adalah koordinator dan staff Divisi Area. Mereka yang mengarahkan kita semua harus ngapain, mereka yang membimbing kita semua ke jalan yang benar, dan mereka yang dengan sabar meladeni kebingungan kita saat ada masalah saat event berlangsung. Terima kasih, Area pasti kacaw balaw kalau bukan mereka berempat pondasinya. :')


Saya bersyukur bisa kenal dan kerja 18 hari bersama mereka. Terima kasih untuk ilmu-ilmunya, cerita, tawa, dan tentu saja nasi kotak serta latoya. Kapan kita mau ngevent bareng lagi? Atau kita bikin event? Yuk!

18 August 2016

3 Hari di Jakarta, Ngapain Aja?

  1 comment

Akhir tahun 2015 lalu saya liburan 3 Hari di Jakarta. Tepatnya tanggal 12-14 Desember 2015. Tau kan ada apa tanggal segitu di Jakarta? Yak benar, DWP! Djakarta Warehouse Project. Dan tentu saja, saya ke Jakarta bukan untuk DWP. Tapi untuk jalan-jalan. Udah wisuda masa nggak jalan-jalan, sih? :p

Selama di Jakarta, saya menemui banyak fenomena-fenomena akhir zaman. Seperti kendaraan beroda tiga. Ular besi yang bisa mengangkut ribuan orang. Dan ojek yang bisa datang sendiri ke tempat kita. Wow. Wow. Wow. Ketik subhanallah di kolom komentar untuk menyaksikan fenomena tersebut.

Hm.

Maap.

Khilap.

***

Biar lebih enak bacanya, saya sudah pisahkan postingan 3 Hari di Jakarta berdasarkan harinya.

Selamat membaca. Kalau saya ada salah kata atau salah deskripsi tentang tempat di Jakarta yang saya tulis, mohon koreksinya. :D

Hari #1: Hutan Mangrove & Kota Tua

  No comments
Yayasan Budha Tsu Chi dari Hutan Mangrove

Pagi itu saya bertemu teman saya di Stasiun Pasar Senen. Kenapa di Stasiun Pasar Senen? Begini ceritanya.

Saya tiba di Stasiun Pasar Senen jam setengah satu malam. Demi menghemat pengeluaran, maka saya menunggu sampai pagi di stasiun ini. Yha. Semalaman. Sampai pagi. Di masjid Stasiun Pasar Senen. Kalau kamu nggak terbiasa tidur di lantai, saya sih nggak menyarankan kamu untuk ikut-ikutan (walau dengan alasan menghemat biaya). Tapi kalau kamu mau coba, boleh. Walaupun ramai, tetap jaga barang bawaanmu ya. Misal kamu bawa 2 tas, gunakan 1 tas untuk bantal, dan satu tas lagi kamu peluk seperti guling, tidur deh… oiya, kalau sudah lewat subuh, jangan harap kamu bisa lanjutin tidur kamu karena bakalan ada bapak-bapak yang selalu bangunin kamu sambil bilang “Mas jangan tidur terus mas. Udah siang. Kerja kerja…”. Selepas subuh, lebih baik kamu jalan-jalan ke luar stasiun, beli kopi atau beli jajan sambil liatin jalanan (hahaha liatin jalanan). Kalau ingin mandi, di gang sebelah pintu keluar stasiun ada banyak kamar mandi umum kok. Cuma bayar Rp. 4000 sekali mandi. Yhea.

Selesai mandi, selesai ngopi, saya kembali ke masjid buat duduk-duduk dan menunggu teman saya. Satu hal yang menarik bagi saya pagi itu adalah orang-orang yang terburu-buru. Ada yang berjalan setengah lari, ada yang lari-lari ringan, ada yang sprint! Setelah beberapa hari saya di Jakarta, saya sadar bahwa orang-orang yang sprint itu bukanlah atlit, mereka hanya orang biasa yang tidak mau ketinggalan kereta (KRL). :))

Jadi, mau ke mana kita hari ini? Hmm.. hmmm… sempat bingung, namun saya bersyukur zaman sekarang ini sudah banyak sekali website travel yang merekomendasikan tempat-tempat keren untuk dikunjungi. Website yang menjadi acuan saya waktu itu adalah Jayanjayan.com (tapi sekarang udah nggak bisa diakses. Sedih, padahal membantu sekali waktu itu). Beberapa tempat sudah masuk sebagai calon destinasi. Daaan, hari ini saya putuskan untuk ke Hutan Mangrove di Muara Angke. Yay!

Yang saya tahu tentang Jakarta hanyalah macet di mana-mana ketika jam berangkat / pulang kantor. Selain itu saya tidak tahu. Teman saya pun tidak tahu (FYI, dia baru 4 bulan di Jakarta, eh, di Depok bukan Jakarta). Ini nih yang bikin greget. Tapi, ketidaktahuan itu tidak menghalangi langkah kami berdua untuk pergi ke Hutan Mangrove. Faigk!

Setelah bertemu di stasiun, kami langsung menuju Terminal Pasar Senen dengan berjalan kaki. Terminalnya di sebelah stasiun persis. Kami langsung mencari Kopami Jaya 02 warna biru tujuan PIK (Pantai Indah Kapuk). Tadi katanya cuma tau macet aja, lah itu kok tau harus naik Kopami Jaya 02 warna biru? Hasil google, mas, mbak. Santai…

Eh kok hasil google? Katanya udah ada website acuan?

Jadi begini. Kalau kamu mau jalan-jalan dan kamu nggak tau arah, pertama yang harus kamu lakukan adalah menentukan tempat tujuan. Kalau nggak tau harus ke mana, baca-baca website travel yang sering kasih rekomendasi tempat-tempat keren. Nah satu hal yang pasti, nggak semua website benar-benar lengkap. Setelah kamu ada tempat tujuan, tugas selanjutnya adalah cari rutenya. Saat kamu cari rute, jangan hanya 1 website saja yang menjadi acuan, setidaknya ada 2-3 website, jadi informasi yang kamu dapatkan nantinya akurat, dan nggak akan nyasar deh. Pusing? :D

Gini gini, misal saya udah suka sama Jayanjayan.com sebagai acuan karena postingan mereka biasanya tempat-tempat baru atau yang lagi hits saat ini. Nah beberapa postingan di Jayanjayan.com ada yang tidak mencantumkan rute lengkapnya. Setelah saya tau harus ke mana, saya browsing deh “Rute ke Hutan Mangrove Muara Angke dari Terminal Ps. Senen”. Jelas? Mari kita lanjutkan.

Saya dan teman saya memang benar-benar modal nekat. Sempat bingung pas ditanya “turun di mana?” sama kondekturnya. Saya bilang turun di Pizza Hut, tapi kondekturnya malah pasang muka “hmmmm, pizza hut mana, tong?” sambil satu alisnya naik. Dalam hati saya sudah sumpah serapah “AHELAH INI KALO SALAH NAEK MATI AJA UDAH”.

Hasil dari googling sebelumnya bilang kalau udah naik Kopami Jaya 02 warna biru turun di Pizza Hut, terus naik angkot mewah merah KWK U 11. Ya saya bilang turun di Pizza Hut dong. Saya nggak salah, kan? :|

Selama perjalanan kami stand by GPS. Hahahaha… ya gimana, takut salah jalan. Zoom in. Zoom out. Geser geser. Nah ada Pizza Hut di depan. Dan keknya mobil ini juga jalan ke sana. Papan Pizza Hut udah keliatan, terus saya bilang ke abang kondekturnya “tuh turun Pizza Hut depan, bang”. Si abang kondekturnya bilang “oh situ. Situ mah namanya PIK. Bilang dong kalo PIK”. Oh oke. Jadi seharusnya saya turun di PIK. Bukan di Pizza Hut. Padahal mah sama aja ye…

Setelah turun, kamu harus menuju sebrang. Pokoknya turun langsung nyebrang jalan aja, jangan balik badan terus nyebrang. Tunggu aja di situ, nanti bakalan banyak angkot merah KWK U 11 lewat.

Angkot yang akan kamu naiki adalah angkot jurusan Kapuk – Muara Baru. Angkot ini bakalan ngelewatin Yayasan Budha Tsu-Chi. Kalau kamu mau ke Hutan Mangrove, kamu harus turun di Yayasan Budha Tsu-Chi. Tapi kalau kamu berangkat bareng rombongan dan satu angkot memang mau ke Hutan Mangrove semua, biasanya si supir akan dengan senang hati mengantarkan kamu sampai pintu masuk Hutan Mangrove kok. Tanpa tambah biaya tentunya. :D

Setelah turun di Yayasan Budha Tsu-Chi, kamu tinggal jalan kaki sekitar 10 menit deh. Jalan aja lurus sampe mentok terus belok kanan. Nanti di kiri jalan ada jalan masuk ke Hutan Mangrove kok. Jangan khawatir kalau kamu bakalan jalan kaki sendirian, banyak juga kok pengunjung Hutan Mangrove yang jalan kaki juga.

Sesampainya di Hutan Mangrove, kamu tinggal bayar tiket masuk sebesar Rp. 25.000. Murah kan? Tapi jangan bawa kamera, ya. Kalau bawa kamera kamu harus bayar sejuta buat masuknya. :')
sumber: lalangbasah.wordpress.com
Di Hutan Mangrove ini kamu bisa jalan-jalan nikmatin alam. Bener-bener nikmatin karena udaranya enak. Kamu bisa selfie sana selfie sini. Bisa liat nama-nama orang yang pernah nanem mangrove di sini. Bisa naik ke menara buat liat seisi Hutan Mangrove dari atas menara. Bisa naik kapal juga buat keliling Hutan Mangrove lewat jalur air (tapi ini bayar ya, Rp. 100.000 kalau nggak salah. Kalau rombongan kalian orangnya cuma dikit, ajakin aja rombongan lain buat join. Banyak yang gitu kok kemaren tuh :D).

Setelah jalan-jalan keliling Hutan Mangrove sampe pegel, kita memutuskan untuk caw dari sini. Tujuan selanjutnya adalah Kota Tua. Tapi, pulangnya naik apa yaaa?

Kita sempat bingung gimana caranya balik ke Kota Tua. Udah sempet nanya ke mas-mas penjaga tiket di Hutan Mangrove, katanya naik Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) aja yang gampang. Kita okein saran dari masnya, tapi kita nggak lakuin. Kenapa? Karena kita nggak ada yang punya tapcash/emoney/dsb untuk naik BKTB. Dan jalan ke haltenya itu agak jauh juga. Jadi kita jalan aja sampe tempat di mana kita turun dari angkot tadi.

Sampai di pertigaan Yayasan Budha Tsu-Chi, kita cuma duduk aja di pinggir jalan. Mikir gimana caranya balik ke Kota Tua. Sempat beberapa kali angkot lewat, tapi kita terlalu takut salah naik angkot. Sampai akhirnya ada angkot merah KWK U 11 yang nyamperin kita (bener-bener ke pinggir jalan) dan nanya “mau ke mana?” saya jawab “PIK bang” lalu abang angkotnya jawab “ayok naik!”. Tanpa pikir panjang langsung aja kita naik. Kira-kira 10 menit perjalanan kita sampai juga di PIK (perempatan yang ada Pizza Hut-nya). Yeay!

Selama ini saya pikir kalau naik angkot pasti panas, pasti sumpek, sama bau balsem. Ternyata nggak juga. Dua kali saya naik angkot, dua-duanya adem-adem aja tuh. Hanya saja angkot yang pertama (pas perjalanan berangkat ke Mangrove) agak desek-desekan, sih. Abangnya kejar target kali ya. Kalau angkot yang kedua mah enak, sepi, selo, bisa selonjoran bahkan gegoleran.

Nah dari PIK ini kalau mau ke Kota Tua lagi kita tinggal naik Kopami Jaya 02 aja. Yang warnanya biru itu loh… Kopami Jaya 02 yang saya dalam perjalanan pulang sedikit berbeda dengan yang saya naiki saat berangkat. Yang dalam perjalanan pulang ini bisnya lebih enakan dikit, kursinya juga agak lebar. Berbeda dengan Kopami yang saya naiki paginya, kursinya sempit banget. Pantat saya yang dapet kursi aja cuma ¾, sisanya diembat sama temen saya. .__.

Sampai di Kota Tua, kita langsung ke tempat yang banyak PKL-nya. Tepatnya ada di Kota Tua sebelah barat (saya sih beranggapan sebelah barat, cmiiw). Di sana ada macem-macem orang jualannya. Ada yang jual sate padang, ada sate ayam, ada soto betawi, ada ayam goreng, ada nasi sayur, ada nasi goreng. Karna nggak tau mana yang enak dan bingung, jadi kita pilih nasi goreng aja. Karena kalau pesen nasi goreng sampe zonk paling kan cuma keasinan / kurang asin aja, kan? Nggak akan terlalu aneh rasanya. Nggak terlalu zonk juga. #tipspro #lifehack #halah

Selesai makan acara selanjutnya adalah liatin orang-orang di Kota Tua. Kita udah terlalu capek keliling Hutan Mangrove seharian, jadi selanjutnya kita duduk-duduk aja di Kota Tua.
Ramainya Kota Tua

Saya yang biasa hidup di tempat yang nggak terlalu ramai, sore itu terlalu kagum dengan Kota Tua. Gila, banyak banget orangnya! Dan kebanyakan dari mereka cuma jalan muter-muter cari spot buat selfie / wefie bareng rombongannya. Huft. Saya juga gitu sih, cuma nggak muter-muter, diem aja di satu tempat. --,

Kita di Kota Tua sampai malam. Sampai waktu memaksa pulang. Teman saya harus pulang ke Depok, dan saya harus pulang ke penginapan. Penginapan saya ada di selatan Stasiun Kota Tua. Jalan kaki 10 menit sampe. :D

Itu dia Hari Pertama di Jakarta. Dari pagi sampai siang-agak-sore ke Hutan Mangrove, sore sampai malam di Kota Tua. Di Hari Pertama ini, saya sadar kalau di Jakarta itu susah ya liat langit biru cerah. :|

Oh iya, berapa sih biaya buat naik Kopami sama KWK U 11?
Kopami itu Rp. 4.000 sekali jalan. KWK U 11 juga Rp. 4.000 sekali jalan (tapi kalau kamu kasih Rp. 5.000 dan nggak dikasih kembalian seribu, maka ikhlaskan).

Ya begitulah hari pertama saya di Jakarta.

Baca cerita hari #2 dan hari #3 di bawah ini

Hari #2: Kebun Binatang Ragunan & Masjid Istiqlal

  1 comment
Kebun Binatang Ragunan
Temukan gajahnya! :p
Hari kedua ini saya dan teman saya berencana untuk piknik di Ragunan. Alat transportasi yang menjadi andalan kami adalah KRL. Jika tempat tujuan benar-benar tidak bisa dijangkau dengan KRL, pilihan kedua jatuh kepada bis/angkot. Setelah browsing sana browsing sini rute menuju Ragunan, akhirnya kami putuskan untuk bertemu di Stasiun Tanjung Barat pagi itu.

Saya berangkat pukul 8 kurang 15 dari Stasiun Kota Tua. Perjalanan ditempuh kurang lebih satu jam. Jadi, saya sampai di Tanjung Barat sekitar pukul 9. Menurut info yang saya dapat, setelah turun di Stasiun Tanjung Barat, saya harus naik angkot - sekian, sumpah saya lupa, searching lagi juga nggak nemu :( - untuk melanjutkan perjalanan ke Ragunan. Oke saya paham.

Sesampainya di Tanjung barat, ternyata di sebelah kanan dan kiri Stasiun ada jalan raya. Saya senyum-senyum sambil mbatin “yang mana nih jalannya hahahahakamprethahaha”. Karena saya sampai di Tanjung Barat lebih dulu daripada teman saya (ya biasa lah dia apa-apanya suka telat), maka saya duduk-duduk di kursi yang ada di peron sambil coba buka maps. Tapi apalah daya, koneksi internet waktu itu bikin istighfar.

Saya masih duduk-duduk dengan tampang sok tenang karena saya yakin pasti ada jalan. Hmm apasik… Nggak berapa lama setelah saya duduk, ada dua ibu-ibu (yang selanjutnya kita sebut ibu A dan ibu B) ikut duduk di sebelah saya. Mereka lagi asik ngobrol dan khas banget logat betawinya. Sebelum kereta ibu-ibu datang dan sebelum teman saya sampai di Tanjung Barat lalu kita bingung bersama, saya pikir ada baiknya saya tanya dulu ke ibu-ibu di sebelah saya.

“Maaf, bu, kalau mau ke Ragunan dari sini ke mana ya?”, lalu si ibu A menjawab “kalau mau ke Ragunan mah enaknya dari Pasar Minggu aja. Banyak angkot kalo di sono…”
Saya cuma “hmmm” sambil coba memahami.
Eh si ibu B nyeletuk “ah enggak juga, dari sini juga bisa. Tapi harus jalan kaki dulu ke sono noh bawah jembatan (yang ternyata adalah bawah tol), ntar dari sono naik aja angkot warna biru terus turun deh di pintu timur (pintu 3) Ragunan.”
“Emang bisa kalo lewat sono? Kok gue nggak tau sik?” Si ibu A nyautin dan kedua alisnya mulai saling mendekat.
“Yee bisa tauk. Kalo lewat sini ntar masuknya lewat pintu timur aja yang deket, kalo lu dari Pasar Minggu ntar masuknya lewat pintu utama. Getoo…”
“Ogitu, yeyeye…” lalu ibu A balik badan ke arah saya dan menjelaskan apa yang sudah dijelaskan ibu B barusan (padahal saya denger hehehehe).

Jadi yang setelah turun dari KRL di Stasiun Tanjung Barat, saya dan teman harus keluar lewat pintu barat, naik jembatan penyebrangan, lalu jalan ke utara sampai ke jalan di bawah tol. Oke paham. Setelah teman saya sampai, kami memulai perjalanan (sambil dalam hati saya berdoa biar apa yang saya pahami dari ibu A dan ibu B nggak salah).

Di bawah tol kita nggak perlu nunggu angkot lama-lama. Di situ akan ada lumayan banyak angkot warna biru dan tertulis jelas di papan rute (di atas kaca depan angkot itu lho) kalau angkot ini jurusan Ragunan. Alhamdulillah… :))) Pokoknya dari Stasiun Tanjung Barat jalan aja sampai jalan TB Simatupang, nanti di bawah jalan tol ada jalan puter balik, tunggu aja di situ, angkotnya nanti lewat situ.

Masih sama seperti hari pertama, selama perjalanan kita tetap stand by GPS. Selalu ada rasa takut nyasar. Hahaha… Jalan dari Tanjung Barat ke Ragunan pagi itu nggak begitu ramai. Jadi perjalanan dari Tanjung Barat ke Ragunan ditempuh sekitar 15 menit. Sampai deh di Ragunan.

Awal sampai Ragunan kita belum sadar bahwa Ragunan itu kalau dikelilingin pake jalan kaki bisa seharian kayaknya deh. Kita baru sadar kalau Ragunan itu luasnya ampun-ampunan saat kita liat Peta Ragunan di sekitar kandang monyet. Kita baru sadar bahwa udah hampir 45 menit (atau sejam, mungkin) jalan-jalan, ternyata belom sampe seperempat Ragunan kita telusuri. Buset.

Kita duduk, kita lihat sekeliling, kok banyak anak-anak yang naik sepeda ya? saat saya lagi mikir dalam batin, tiba-tiba teman saya nyeletuk “Nanti sewa sepeda aja yuk” tanpa pikir panjang saya langsung okein.

Sebelum sewa sepeda kita cari tempat yang adem dulu buat makan. Saya kasih tau kalian semua ya, kalau ke Ragunan mending bawa bekal sendiri dari rumah, dimakan di Ragunan sambil lesehan di bawah pohon-pohon. Hemat biaya, adem, dan berasa pikniknya! Paling sewa alas aja sih Rp. 10.000 buat duduk lesehan. :D

Tempat sewa sepeda di Ragunan ada di dekat pintu utama. Sewa sepeda di sini harganya Rp. 15.000 per jam untuk satu sepeda. Dan kalau mau nyewa harus ninggalin KTP/SIM buat jaminan. Karena sepeda yang disewain nggak sebanyak pengunjung Ragunan, jadi kalau sepedanya belum ready ya harus nunggu dulu sampai ada sepeda yang balik. Waktu itu sih saya nggak lama nunggu sepedanya, sekitar 5-10 menit udah ada sepeda yang balik. Yeay!

Saya pikir saya dan teman saya cuma punya waktu sejam buat keliling Ragunan, jadi kita harus cepat-cepat kalau mau benar-benar keliling Ragunan. Tapi baru jalan 15 menitan aja udah capek. Lemah!

Jalanan di Ragunan nggak selalu datar, ada naik-turunnya juga. Belum lagi kalau ngelewatin spot yang orangnya banyak banget (misal di kandang beruang, orang utan, sama gajah), yang naik sepeda juga harus ngalah sama yang jalan kaki. Akhirnya kita lebih mencoba berpikir realistis dan memutuskan untuk lihat hewan yang memang ingin kita lihat saja. Tujuannya bukan lagi keliling Ragunan.
Rusa Kebun Binatang Ragunan
Kebun Binatang Ragunan

Monyet Kebun Binatang Ragunan

Setelah lihat gajah, beruang, singa, orang utan, kuda nil, burung-burung, ular, eh udah sejam aja! Lalu kita buru-buru buat balikin sepedanya. Capeknya busetdeeh… Rasanya jadi bukan hanya piknik, tapi olahraga sekalian karena baju basah kena keringat.

Untungnya di sebelah penyewaan sepeda ada toko yang jual minuman. Jadi nggak usah jauh-jauh jalan lagi buat beli minum. Selesai minum saya dan teman saya langsung cari mushola. Kata tukang sapu di Ragunan, mushola paling dekat dengan tempat saya minum sekarang ada di parkiran, di sebelah pintu masuk. Okay…

Selesai sholat rencananya kita mau ke Pasar Santa. Dan masalahnya selalu sama; nggak tau jalan, nggak tau arah, dan nggak tau transportasinya. Karena transportasi andalan masih KRL, maka kita cari stasiun terdekat ke Pasar Santa. Menurut beberapa artikel, kita harus turun di Stasiun Cawang lalu naik PPD 45 atau Mayasari 57 untuk sampai ke Pasar Santa.

Langit jam 2 siang tapi berasa langit jam 6 sore. Gelap. Kita yang posisi ada di dekat pintu masuk utama Ragunan akhirnya memutuskan untuk caw dari Ragunan lewat pintu utama saja. Saya ingat kata-kata ibu B di Stasiun Tanjung Barat tadi pagi “kalau dari Pasar Minggu nanti masuknya lewat pintu utama” jadi bisa disimpulkan kalau dari pintu utama Stasiun tujuan kita adalah Pasar Minggu.

Sampai di tepi jalan saya baru ingat kalau saya dan teman saya nggak ada yang tau angkot berapa yang ke Pasar Minggu. Hahahahaha… Untungnya, ada abang-abang yang teriak “Pasar Minggu Pasar Minggu yok dikit lagi berangkat” di seberang jalan. Saya dan teman saya langsung aja ke seberang dan memastikan “Ke Stasiun Pasar Minggu naik ini bisa, bang?” lalu  si abang mengiyakan. Sip.

Jalan dari Ragunan Pintu Utama ke Pasar Minggu siang itu agak padat. Nggak kayak jalan berangkat dari Tanjung Barat. Saya sih nggak tau gimana jalanan situ kalau pagi. Tapi saya saranin kalau berangkat mending dari Tanjung Barat aja terus naik angkot biru dari jalan TB Simatupang karena jalannya sepi dan adem (tapi saya nggak jamin sih selalu sepi dan adem ehehe).

Sampai di Stasiun Pasar Minggu kereta langsung datang. Baru aja naik kereta langsung hujan deras. Untung aja sampai di Stasiun Cawang hujan reda.

Di Stasiun Cawang ini ada 2 pintu keluar. Satu di sebelah timur satu di sebelah barat. Kalau kamu mau ke tol cawang kamu harus keluar lewat pintu timur terus jalan kaki lewatin terowongan kereta dan naik ke atas. Nah kalau kamu mau ke Tebet keluar lewat pintu barat.

Untuk ke Pasar Santa, dari Stasiun Cawang ini kita bisa naik bis. Kalau mau naik bis otomatis harus keluar lewat pintu timur. Dan dengan sok taunya saya dan teman saya jalan aja keluar lewat pintu barat. Hahahahabegohahahaha… Setelah keluar lewat pintu barat kita jalan aja ke arah selatan ngelewatin terowongan. Kita jalan ke sana karena kalau diliat di gmaps di situ adalah jalan raya ke Pasar Santa.

Kita tunggu sampai beberapa menit kok kayaknya ada yang nggak beres… Kayaknya nggak mungkin bis lewat jalan sekecil ini. Akhirnya kita jalan ke arah barat dan baru sadar kalau di atas kita itu jalan tol (dan, ya, bisnya pasti lewat situ!). Kita jalan sekitar 100 meter ke arah barat dan nggak nemu jalan buat naik ke atas. Akhirnya kita balik, lewatin terowongan, jalan ke arah barat lagi, dan tetep nggak nemu jalan. Jadi kalau digambarin, sepanjang jalan tadi kita udah bisa ngebentuk huruf U. Cuma bolak-balik aja.

Akhirnya kita balik lagi ke Stasiun Cawang, duduk, dan mikir “mau ke mana?”. Karena udah keburu laper dan kayaknya mau ujan lagi, feeling saya bilang “ke Stasiun Juanda aja” jadi lah saya ajak teman saya ke Stasiun Juanda.

Saat kereta mendekati Stasiun Juanda, saya baru sadar kalau Stasiun ini dekat dengan Masjid Istiqlal. Hmm. Wow. Saya langsung ajak teman saya untuk ke Masjid Istiqlal dan diiyakan karena katanya sekalian makan sama sholat maghrib juga di sana. Katanya banyak yang jualan makanan di sekitar parkiran Masjid. Saya mah oke oke aja.

Keluar dari Stasiun Juanda, lalu menyebrang jalan lewat jembatan penyebrangan, jalan sekitar 5 menit sampai deh di Istiqlal. Kami langsung saja menuju area pakir untuk mencari makan. Penjual di sini mayoritas jualan nasi goreng dan soto. Ada beberapa sate padang juga sama penjual siomay.

Selesai makan dan sholat maghrib di Istiqlal, saya dan teman saya berencana ke Pecenongan. Menurut beberapa website yang saya baca, di Pecenongan ini tempatnya wisata kuliner. Dari Istiqlal butuh jalan sekitar 15 menit untuk sampai ke Pecenongan. Dan ternyata di Pecenongan ini mayoritas jualannya Chinese Food. Kami yang masih kekenyangan Sate Padang akhirnya mampir ke warung roti bakar yang ada di situ. Udah jauh-jauh jalan dan capek juga sayang kalau nggak mampir dulu.

Jam 8 akhirnya kami caw dari pecenongan. Teman saya pulang ke Depok, saya pulang ke Bogor. Kok ke Bogor? Saya mau numpang di rumah Risal. Sampai di Bogor sekitar jam 10 malem dan kondisi gerimis saat itu, tapi Risal tetap jemput saya pakai motornya. Baik banget. Dear pacarnya Risal yang sekarang, dari hati saya ingin katakan, jangan sia-siain Risal, ya… Dia baik banget orangnya. :')

Ya begitulah hari ke-2 saya di Jakarta.

Baca cerita hari #1 dan hari #3 di bawah ini


Hari #3: Kebun Raya Bogor & Botani Square

  No comments
istana bogor
Hari ke-3 saya dan teman saya memilih tempat yang dekat dengan Depok dan Bogor, dan terpilihlah Kebun Raya Bogor yang tidak terlalu jauh dari Stasiun Bogor.

Pagi itu saya diantar oleh Risal jam 8 dari rumahnya yang ada di daerah Cimanggu ke Stasiun Cilebut. Saya nggak tau apa jadinya saya tanpa Risal saat itu (hmm, penjilat!). Sampai di Cilebut jam 9, saya langsung menunggu kereta di peron. Saya menunggu kereta yang dinaiki oleh teman saya dari Depok. Perjalanan dari Cilebut sampai ke Bogor ditempuh kurang lebih 9 menit. Tapi menunggu kereta yang dinaiki teman saya bisa puluhan menit. You know…

Sekitar jam 10 pagi saya sampai di Stasiun Bogor. Kesan pertama saat sampai Bogor dan keluar dari stasiun adalah gila nih kota angkotnya banyak bener… Di sepanjang jalan raya di depan Stasiun ada banyak sekali angkot baik yang sedang ngetem, siap-siap jalan, dan yang sedang jalan. Sampai bingung mau naik yang mana. Coba kalau jodoh juga sebanyak angkot di Bogor dan bisa milih. Hm apazeh.

Setahu saya sih saya harus naik angkot yang penumpangnya hampir penuh, soalnya kalau masih dikit penumpangnya nanti pasti ngetem. Itu cuma teori saya sih. :p

Untuk menuju ke Kebun Raya Bogor dari Stasiun Bogor bisa menggunakan angkot 02 atau 03. Kalau naik angkot 02 nantinya bisa masuk dari pintu masuk utama, kalau naik angkot 03 bisa masuk dari pintu 03 atau pintu 04. Saat itu saya naik angkot 03 dan saya turun di depan Botani Square. Supir angkotnya lupa kalau ada penumpang yang mau ke Kebun Raya Bogor, dan saya nggak sadar kalau hampir kelewatan Kebun Raya Bogornya. -_-

Dari depan Botani Square kita jalan sekitar 5-10 menit untuk sampai di pintu 04 Kebun Raya Bogor. Dan saya baru tahu kalau mau menyebrang jalan di sini harus lewat Underpass, kayak terowongan bawah tanah tapi buat nyebrang jalan. Selama di Underpass ini banyak orang jualan sendal, kaos, powerbank, makanan ringan, lukisan, dan beberapa orang nyanyi-nyanyi di pojokan.

Baru aja masuk Kebun Raya Bogor dari pintu 04 langsung ada peta Kebun Raya Bogor terpampang dengan jelasnya. Di situ tertera kalau luas Kebun Raya Bogor ini 18 hektar. Okay. Saya dan teman saya nggak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti di Ragunan, akhirnya kami langsung menuju pintu utama untuk mencari penyewaan sepeda.

Penyewaan sepeda di sini modelnya sama saja seperti di Ragunan, hitungannya per jam. Tapi, sewa sepeda di Kebun Raya Bogor ini dilengkapi dengan helm juga. Safety first. :D

Akibat terlena dengan kesejukan Kebun Raya Bogor ini, saya dan teman saya asal jalan saja. Tanpa rute dan tujuan. Kamu-kamu semua kalau ke Kebun Raya Bogor sebaiknya pastikan dulu ya mau muter-muter ke mana saja, atau coba baca tips ini.

Selama satu jam bersepeda, saya dan teman saya melihat Jembatan Gantung, Taman Astrid (taman luas dan rumputnya hijau, instagramable banget), Taman Meksiko, Jalan Kenari II, Istana Bogor. Iya cuma sedikit saja, kita kehabisan waktu pas nyari Bunga Bangkai saat itu. Sedih. :')
Kebun Raya Bogor
sumber: lovelybogor.com
Selesai keliling Kebun Raya Bogor, kami putuskan untuk ke Botani Square saja untuk makan sekalian sholat. Kami memilih Botani Square karena hanya itu yang kami tau. Taunya pun karena tadi pagi kebetulan turun dari angkot di depan Botani Square. :')

Dari pintu utama butuh 10-15 menit jalan kaki untuk sampai di Botani Square. Yang saya suka di Botani Square adalah musholanya. Mushola di Botani Square ini dingin banget. Karena nggak ada ventilasinya, jadi di Musholanya ada semacam blower tapi besar, jadi udaranya selalu fresh. :D

Di dekat mushola ada food court. Tapi kita nggak makan di food courtnya, kita malah makan di, hmm, apaya namanya… Saya lupa namanya karena waktu itu asal masuk aja terus makan. Dan juga harganya yang mahal (izalah kan di mall) jadi saya nggak ingat-ingat.

Selesai sholat selesai makan, saya dan teman saya langsung buru-buru balik ke Depok. Teman saya ada kuliah sore harinya. Karena kereta saya dijadwalkan berangkat pukul 10 malam dan hari masih siang menjelang sore, jadi saya putuskan untuk keliling saja dengan KRL. Tapi, di tengah perjalanan saya keliling, baterai handphone saya habis. Sampai di Manggarai saya turun dari kereta dan numpang ngecas. Beruntungnya di Manggarai ini banyak colokan. :')

Makin sore suasana Stasiun Manggarai makin ramai. Oh jadi kayak gini suasana pulang kantor di kota metropolitan, ya… Satu hal yang menarik adalah saat semua orang menunggu kereta di jalur 3, lalu ada pengumuman bahwa kereta yang ditunggu akan tiba di jalur 1, nggak sampai satu menit semua orang sudah pindah di jalur 1. Hahahahaha… oke nggak lucu sih.


Ya begitulah hari ke-3 saya di Jakarta (padahal di Bogor ya).

Baca cerita hari #1 dan hari #2 di bawah ini


10 August 2016

Review Juru Bicara Jogja

  3 comments
juru bicara jogja
Ini nih tiket kursi paling belakang.

Ada pembahasan tentang rating TV di Indonesia
Ada pembahasan tentang HAM
Ada pembahasan tentang berkarya
Ada pembahasan tentang perlindungan hewan
Ada pembahasan tentang pendidikan
Ada pembahasan tentang lokalisasi
Ada pembahasan tentang agama
Daaan, ada pembahasan tentang Daun Bungkus Papua

Menurut saya, hampir semua materi yang dibawakan oleh Pandji di Juru Bicara Jogja adalah suara-suara yang belum tersampaikan ke telinga banyak orang. Saya suka dengan bagaimana cara Pandji berfikir, seperti bagaimana mengajarkan Islam dengan cinta, bukan dengan menakut-nakuti apalagi provokasi. Lalu, seperti bagaimana kita seharusnya merespon jawaban yang salah supaya orang yang salah tidak berkecil hati. Dan bagaimana cara kita memperlakukan hewan dengan semestinya.

Untuk kamu yang kotanya akan disambangi Juru Bicara, kamu akan menyesal kemudian hari jika melewatkan show yang satu ini.


Terima kasih, Pandji, untuk dua setengah jam yang tidak hanya penuh tawa tapi juga menyadarkan.

29 June 2016

Time Flies

  No comments
kampret

Agung udah nikah sama Chintya. Mereka mulai usaha jualan jilbab dan semacemnya. Agustus besok mereka bakalan pindah ke Indramayu. Katanya "Mau ngurus sawah, coi. Kal kalian di Jogja butuh beras, kalian tau harus hubungin siapa." Oke, Gung.

Fendy sepertinya udah nemu jalannya lagi. Jadi anak band. Dia sering bolak-balik Jogja-Salatiga buat ngurus bandnya. Terakhir saya denger, bandnya udah masuk studio rekaman. Gokil! Oya, dia juga mulai usaha bikin pernak-pernik handmade, semacam cincin, kalung, dsb dari kayu.

Rian udah nyaman sama kerjaannya di Salestock. Ngurusin berbagai pertanyaan dari para sista se-Indonesia kayaknya bikin dia betah. Oh, maaf, saya ralat, teman-teman di kantor yang mayoritas cewek kayaknya yang bikin dia betah.

Dodi tetep ngejalanin Jasa Webmastersnya. Ketemu client, bikin kerangka kerja, ngurus keuangan, sampe beresin kantor semua dia lakuin sendiri. Maklum kantornya kamar kosan dia sendiri. Selain itu dia masih aja sibuk main Dota.

Risal, hmm. Apa kabar dia, ya? Terakhir saya dengar dia buka jasa pembuatan 3D gitu. Terakhir juga saya dengar dia dekat dengan seorang perempuan. Ah... <3

Avin. Terakhir diajakin kumpul katanya dia lagi banyak kerjaan. Saya nggak tau pasti dia sibuk apa, mungkin kerjaan dari kantornya, mungkin ngurusin projek AR (Augmented Reality) punya dia. Entahlah, semoga sehat selalu.

Wahid sibuk ngurusin wisuda. Ya, dia (baru) mau wisuda Agustus besok. Terakhir dia tanya-tanya ke saya tentang Surat Keterangan Lulus. Gercep bener gan! Bisnis flannelnya juga udah jalan beberapa bulan, dan semoga saja terus berjalan serta berkah.
***
Time flies. Semua punya tujuan masing-masing. Semua punya jalan masing-masing. Semoga masing-masing mendoakan semua, biar kalau puluhan tahun kumpul bareng bisa ngotot-ngototan bilang "UDAH AKU AJA YANG BAYAR INI SEMUA!"

20 April 2016

Hal-Hal Yang Malas Kita Lakukan Saat di Rumah Padahal Penting Untuk Bekal di Perantauan

  3 comments
Hola! It’s been a long time without you my blog. Ciye bacanya sambil dinyanyiin. :p

Beberapa hal yang perlu kalian tau adalah 1) Saya sudah lulus kuliah dan teman-teman SMA saya banyak yang belum lulus (--,) *lalu dikroyok*; 2) Belakangan kegiatan saya lebih banyak ke koding (</>); dan 3) Saya jom… okay, let’s talk about what I want to share now.

Sebenarnya saya nggak sibuk-sibuk amat, cuma karna kebanyakan koding otak saya jadi males banget buat diajak kerjasama buat nulis postingan blog. Koding itu nggak capek fisik, tapi capek pikiran. Sebenarnya saya tetep nulis, sih, cuma nggak di-share aja karena terlalu sampah. Kebanyakan nggak penting, kek paragraf pertama sampe sekarang ini. Ehe…

Hal-Hal Yang Malas Kita Lakukan Saat Di Rumah Padahal Penting Untuk Bekal Di Perantaauan

Saya sudah hampir 4 tahun ini merantau di Jogja, dan berbekal pengalaman itu, saya ingin share tentang Hal-Hal Yang Malas Kita Lakukan Saat Di Rumah Padahal Penting Untuk Bekal Di Perantauan. Gimana nih judulnya menurut kalian? Judulnya udah catchy banget khan? Udah mirip artikel-artikel populer jaman sekarang khan? (--,)

Kamu harus tau bahwa ternyata banyaaak banget hal yang udah males-malesan kita kerjain di rumah (malah bahkan kadang nggak dikerjain sama sekali) padahal itu penting. Padahal kalau kamu merantau kamu butuh skill dari hal yang kamu lakuin males-malesan itu supaya hidup kamu tetap berkualitas. Beberapa hal itu di antaranya adalah

1. Cuci Baju
Hal-Hal Yang Malas Kita Lakukan Saat Di Rumah Padahal Penting Untuk Bekal Di Perantaauan
Kalau kamu termasuk golongan orang-orang yang "Buang Baju Habis Pakai", selamat, kamu nggak perlu skill ini. Buat kamu calon anak rantau dan belum terbiasa cuci baju sendiri, saat kamu merantau kamu harus terbiasa sama kerjaan ini. Sekalipun tukang londri baju pasti nyebar di mana-mana (kek alfamart & indomaret), tapi pasti ada saat di mana kamu harus nyuci baju sendiri. Trust me.

2. Lipat & Setrika Baju
Hal-Hal Yang Malas Kita Lakukan Saat Di Rumah Padahal Penting Untuk Bekal Di Perantaauan
Udah jelas kalau skill cuci baju sendiri harus satu paket sama lipat & setrika baju. Selain nantinya baju-baju kamu bisa lebih rapi dan bersih, kamu juga bakalan punya keuntungan lain kalau udah luwes lipat & setrika baju sendiri. Misal gini, kamu anak kuliahan dan pengen dapet uang jajan tambahan, cara paling gampangnya adalah dengan jualan. Contoh jualan baju yang sistemnya dropshiper jadi nggak perlu modal sama sekali. Berbekal skill lipat & strika baju itu, dagangan kamu pasti akan selalu rapi. Nah kalau jaualanmu rapi dan enak diliat pasti bakalan jadi lebih menarik, kan? ;)

3. Cuci Piring
Hal-Hal Yang Malas Kita Lakukan Saat Di Rumah Padahal Penting Untuk Bekal Di Perantaauan
Semua orang butuh makan, buat makan butuh piring *MASAAA SEEEH*.. Selama kamu merantau, pasti ada saatnya kamu bakalan makan di kosan pake piring. Kalau di rumah kamu setelah makan kamu biasa tinggalin piring kotor di tempat cuci piring, mulai sekarang kamu harus kurangin kebiasaan itu. Setelah makan, buang aja piringnya biar nggak repot nyuci piring. Ah sorry, udah ngelantur nggak lucu pula.

4. Nyapu!
Hal-Hal Yang Malas Kita Lakukan Saat Di Rumah Padahal Penting Untuk Bekal Di Perantaauan
Kamu sadar nggak kalau piket seminggu sekali di sekolah (SD-SMA) itu adalah investasi jangka panjang? Kalau kamu nggak sadar, sekarang kamu harus sadar. Piket di sekolah itu pasti identik sama nyapu kelas pagi-pagi sebelum bel masuk bunyi, betul? Nah sebenarnya selama itu (dari SD-SMA) kamu dilatih biar jadi orang yang bersihan (bukan jadi petugas kebersihan, lho). Sebenarnya kamu dilatih biar kalau merantau nanti, kamar kos kamu bisa bersih tiap hari karna ada yang nyapu. Ya, tentu saja ibu kosmu yang nyapu. Huft, ya nggak lah. Kamu sendiri yang nyapu.

5. Beli Garem
Hal-Hal Yang Malas Kita Lakukan Saat Di Rumah Padahal Penting Untuk Bekal Di Perantaauan
Kamu yang sering jawab "Yaaa bentaaaar" pas disuruh ibumu beli garem, terus kamu nggak beli-beli dan akhirnya ibumu beli sendiri, pasti akan nyesel kalau kamu udah merantau. Ibu kamu nyuruh kamu beli garem itu bukan semata-mata karena ibu kamu males/nggak sempat, tapi ibu kamu juga pengen kasih sedikit pelajaran gimana cara "beli garem" di warung kelontong secara efektif dan efisien. Sebenarnya, saat kita beli garem itu, secara nggak langsung kita udah "kenalan" sama warung kelontong. Kenalan di sini maksudnya, kita jadi tau kondisi warung kelontong dan apa aja yang ada di sana. Karena sesungguhnya barang-barang yang dijual di warung kelontong adalah barang-barang yang akan menyelamatkan hidupmu di perantauan suatu saat nanti. Boom!

Itu dia, buat kamu terutama anak-anak SMA yang kemaren abis UN, mumpung masih banyak waktu di rumah lebih baik kamu belajar lakuin hal-hal di atas sebelum kamu merantau di kota orang. Jangan terlalu mikir main terus, karena kalau udah merantau nanti, kamu bakalan lebih bebas kalau mau main, kok. Itung-itung bantuin orang tua di rumah, kan?
Okay, that’s all. Bye!


NB: kalau kamu kepikiran tentang Hal-Hal Yang Malas Kita Lakukan Saat Di Rumah Padahal Penting Untuk Bekal Di Perantauan lainnya, tulis aja di kolom komentar. \o/