19 July 2014

Semua Akan Mati

  No comments
JULI. Kucing pertama saya. Putih polos, mata bulat kecoklatan, bulu tebal dan manja. Iya manja. Dia betina, dan majikannya (saya) laki-laki. Wajar kalau manja. Suatu ketika Juli main ke rumah tetangga tanpa pamit, dia pergi mencari tikus. Maklum kucing setengah kampung, mainnya sama tikus. Hari itu tikus tetangga ditemukan Juli terbaring lemah di belakang tumah tetangga, tikus itu keracunan. Juli yang mempunyai naluri kucing, langsung melahap tikus yang mati keracunan dengan enaknya. Saya baru saja pulang sekolah siang itu, dan Juli terlihat lemas di samping rumah. Mukanya pucat. Saya panik. “Paaakk!! Juli paaakkk!!” saya memanggil bapak saya. Dengan segera Juli diberi penawar racun; air kelapa muda. Tapi sialnya, racun tikus pada tikus yang dimakan Juli sudah terlanjur menjalar ke seluruh tubuh Juli, dan sejam kemudian, nyawa Juli tidak terselamatnya. Juli mati. Saya menangis semalaman.


DANGER! Itu nama flashdisk 2GB pertama saya. Putih kotak memanjang dengan tutup diujungnya yang terpasang tali panjang bertuliskan “NOKIA”. Flashdisk seperti itu paling gaul pada zaman SMP saya. Saya beli dari hasil tabungan saya selama kurang lebih 2 bulan. Ya, menabung Rp. 100.000 untuk anak SMP bukan hal yang mudah pada zaman itu. Setelah lebih dari 1 tahun flashdisk tersebut menemani saya, tanpa sebab yang pasti tiba-tiba ia tak bisa terdeteksi di laptop / komputer manapun. Saya bingung. Saya panik. Sampai akhirnya saya sadar, kalau flashdisk tersebut sudah tidak bisa digunakan lagi. Saya pasrah. Saya dongkol. Flashdisk 2 GB yang saya beli dari hasil menabung saya, mati begitu saja. Saya diam semalaman.

NOKIA 2330. Ponsel pertama saya setelah saya masuk SMA. Orang tua saya memang tidak mengijinkan anaknya bermain ponsel sebelum benar-benar dibutuhkan. Berhubung SMA saya jaraknya lumayan jauh, maka orang tua saya membelikan sebuah ponsel baru untuk saya supaya saya bisa tetap memberi kabar tanpa harus menulis surat panjang lebar. Malam itu saya mengikuti Soedirman Cup di GOR Satria Purwokerto, dengan pulang berbekal kekalahan, maka saya pikir biarlah saya pulang bersama rintik gerimis yang saya pikir bisa menghapus tangis kekecewaan. Sesampainya di rumah, semua baju langsung saya rendam. Tak ketinggalan jaket saya yang basah-basah berbau resah. Setelah semua direndam, saya berganti pakaian dan, tunggu, ponsel saya di mana? Di tas, kosong. Di meja, kosong. Di atas kasur, kosong. Oh sial, di jaket! Buru-buru saya ke kamar mandi, dan benar, ponsel saya ada di jaket yang sudah direndam air detergen 5 menit yang lalu. Ponsel saya lemah tak berdaya, mati total. Kecewa saya malam itu makin menjadi-jadi karena kelalaian saya sendiri.


HARDDISK 320GB. Harddisk dari laptop pertama saya, laptop yang dibelikan ketika saya kelas 2 SMA, laptop yang menemani saya sampai kuliah semester 5. Senin malam saya iseng menyalakan laptop saya, membaca catatan-catatan lama saya—draft blog yang tak kunjung diposting. Saya pikir sudahlah, masih ada hari esok kok untuk mempostingnya. Saya shutdown laptop saya. Sorenya saya ingin menulis sesuatu untuk blog saya, saya nyalakan laptop, macet sampai logo windows. Saya diamkan sekitar 5 menit, tertulis pesan di layar laptop “You're PC ran into a problem. :(” saya melongo. Laptop saya restart sendiri, sampai 3 kali. Dan setelahnya, dia tak bisa booting lagi. Harddisk 320 GB yang penuh kenangan, tiba-tiba mati tak bisa terdeteksi. Saya panik. Saya bingung. Saya coba bongkar-copot harddisk-pasang lagi, hasilnya nihil. Saya ulangi sampai 3 kali, tetap nihil. Esoknya saya bawa ke tukang servis laptop, dan hasilnya “Harddisknya rusak, mas” kata mas tukang servis. Saya diam saja sambil mengangguk-angguk kecil dan muka pasrah. Huft.

***

Satu hal yang harus kita sadari; semua yang ada di dunia ini akan mati. Benda hidup akan mati, benda mati pun akan mati. Semua punya umurnya masing-masing, dan kita tak akan tahu kapan akan datang “umurnya” dari tiap benda itu. Tinggal persiapkan dan tunggu waktunya datang.
Lalu saya berpikir; mungkin cinta kita pun akan mati suatu saat nanti. Kemudian saya bertekad; saya akan menjaga cinta kita agar bisa tetap hidup sampai akhirnya saya mati.

No comments :

Post a Comment