12 June 2014

Gunung Api Purba

  No comments
Rabu pagi, 11 Juni 2014 adalah hari yang bersejarah bagi saya. Kenapa bisa bersejarah? Karena hari itu adalah hari dimana saya pertama kalinya naik gunung. Hah! (--,)9

***

Minggu ini mahasiswa di kampus saya sedang disibukan dengan aktivitas rutin di tiap akhir semester yang mau tidak mau harus diikuti demi munculnya IP yang diharapkan, yaitu UAS. UAS di kampus saya jadwalnya sedikit meresahkan. Karena gini, UAS mempunyai waktu 2 minggu atau 12 hari (hari Minggu tidak dihitung), misal saya punya 8 mata kuliah semester ini, dan 1 hari 1 mata kuliah yang diUASkan, berarti secara matematis, saya akan selesai UAS selama 8 hari dan punya jatah libur selama 4 hari. Tetapi pada kenyataannya, UAS tetap selesai sampai akhir waktu—2minggu karena jadwal UAS sehari masuk sehari libur. Oh teganya..
2 hari setelah UAS, libur kecepit pun tiba. Lantaran saya dan teman-teman sekontrakan ingin berlibur untuk menjernihkan Tambak Boyo pikiran, akhirnya diputuskan lah untuk pergi ke Gunung Api Purba di Nglanggeran, Gunung Kidul. Menurut teman saya, katanya puncaknya bagus, jalur pendakiannya yang tak terlalu sulit, dan mudah ditempuh. *lah apa bedanya tak terlalu sulit sama mudah ditempuh?* karena saya percaya pada teman saya, makan saya iyakan saja ajakan untuk naik ke Gunung Api Purba. ~\o/
gambar dari http://www.sesawi.net/

Berangkat dari kontrakan pukul 3 pagi WICC (Waktu Indonesia bagian Condong Catur), saya bersama 4 teman saya (Risal, Fendy, Wahid, Rian) berangkat menuju Gunung Api Purba. Perjalanan yang dibutuhkan untuk sampai ke lokasi ± 1 jam, dan selama di perjalanan saya melihat banyak sekali penampakan. Penampakan mbak-mbak mabok yang baru pulang dugem pada waktu itu. #duhmbak..
Setelah melewati jalan yang berliku, pukul 4 pagi sampailah kami di kawasan ekowisata Gunung Api Purba, Nglanggeran. Yeah, saya rasa ini akan menjadi pendakian pertama yang menakjubkan. Dengan menukarkan Rp. 9.000 ke petugas penjaga loket tiket (t tiket sama l loket jangan dibalik), saya mendapatkan karcis untuk naik ke gunung + karcis masuk ke embung Gunung Api Purba. Berbekal 2 liter air mineral, 1 bungkus roti dan 3 buah senter (1 pake senter hape .______.) serta 2 teman yang berpengalaman naik ke gunung ini, maka saya siap untuk melakukan pendakian pagi itu.
Naik sana, naik sini, panjat sana, panjat sini, kepleset sana, kepleset sini, akhirnya sampailah di pos 1. Beh, gini aja udah sampe pos 1? Cepet amat.. batin saya. ._____. Jalur untuk sampai ke pos 1 masih terbilang mudah, tapi ya harus tetap berhati-hati karena jalurnya melewati 2 buah batu yang begitu besar, sebesar cintaku padamu *halaaah*, dan jalurnya sempit, sesempit daun kelor. Pft.. karena merasa belum membutuhkan istirahat, maka kami langsung melanjutkan perjalanan demi puncak dan sunrise. *benerin iket kepala* *lanjut manjat*
Jalur pendakian setelah pos 1 relatif lebih sulit dibanding jalur sebelum pos 1, emm, menurut saya sih gitu. Heheheh.. kalau sebelum pos 1, kebanyakan jalan lewat batu, nah setelah pos 1 kebanyakan jalan lewat tanah, karena tanahnya becek, jadi saya rasa lebih sulit.
Setelah mengikuti jalan yang ada, maka sampailah kita di jalan buntu. \(!!'o')/
“Oi, nggak ada jalan lagi nih..” Rian dan Fendy yang berada di depan sendiri, memberi kabar kepada saya, Risal, dan Wahid yang ada di belakangnya. Lah ini gimana.. batin saya. “Hid, dulu kamu lewat sini nggak?” tanya Fendy. Wahid yang tadinya berada di paling belakang dengan santai dan muka sok gantengnya bilang “nggak, dulu saya nggak lewat sini”  NYEEET. NGAPA NGGAK BILANG DARI TADI KALO NGGAK PERNAH LEWAT JALAN SINI? -__- setelah diam beberapa saat dan melihat keadaan sekitar yang begitu berembun, maka diputuskan lah untuk putar balik. Huft..
Dan taukah kamu bahwa jalur turun lebih rumit lagi dibanding jalur naik? Iyalah lebih rumit, kalo naik kan bisa sambil mbrangkang biar nggak kepleset, nah ini turun, udah pasti kepleset kalo cara turunnya nggak bener. ("._.)/||
Saat turun pun, kita tersesat pula. Uh, udah naik nyasar, turun nyasar juga. Kita sampai pada tebing yang sama sekali nggak bisa buat turun. “Eh tadi emang lewat sini? Ini bener jalannya apa bukan? Kok terjal gini.” Fendy bertanya pada semua. “Bukan nih, tadi bukan lewat sini. Kalo tadi lewat sini, nggak mungkin kita bisa manjat batu ini” si Wahid nyautin Fendy. “Tapi tadi kan kita lewat jalan yang ada di bawah tuh” saya ikut nyautin. Lalu semua hening, dan jongkok sambil memandang ke bawah. Huwooo~~~
Setelah menganalisa jalan yang ada, ternyata benar kami memang salah jalur turun. Saat di percabangan jalur turun, harusnya belok kanan, kami malah belok kiri. Kalau belok kanan itu jalan yang benar, maka belok kiri adalah jalan jurang. :|
Hari semakin pagi, jalan semakin terang, embun makin tebal dan senter mulai redup. Untung jalannya udah keliatan. Dan akhirnya, kita sampai lagi di pos 1. Yeah! Nggak ada yang terlihat selain embun putih. Uwuwuw, serasa di atas awan. :3 nih liat aja embunnya yang di belakang, jangan liat Risalnya. :p


Setelah duduk, minum, makan, dan terdiam, sebelum embun makin tebal lagi, kami putuskan untuk segera turun. Sambil turun, kami masih tertawa kecewa. “Kalo batu yang di kanan kiri kita bisa ngomong nih, pasti batunya udah bilang, ‘Lho kok cepet, mas? Udah sampe puncak po?’ ke kita.” “Iya dong cepet, wong nggak sampe. Hahahaha..” Kata Wahid yang kali ini ada di depan sendiri memimpin jalan turun. Kasian, Wahid jadi ‘sakit’ gegara nyasar tadi. :(
Sampai di bawah sudah terang, tapi embun masih tebal. Dan sejak saat itu, saya mempunyai prinsip:
sebagus apapun sunrise di gunung, saya lebih memilih nikmati senja di tepi pantai. (".____.)
Maka kamu-kamu yang ingin naik gunung, pastikan kamu siapkan beberapa hal di bawah ini:
1.    Senter sendiri-sendiri. Ini penting, karna di gunung sepagi itu yang ada hanya gelap dan jeritan-jeritan hati yang tersakiti.
2.    Makan dan minum secukupnya. Haus dan lapar kerap kali datang secara tiba-tiba, dan kamu tak akan pernah tau.
3.      Mental yang kuat. Kalo kamu cemen, nggak usah lah sok-sokan mau naik gunung. :p
4.      Peralatan naik gunung. *ya iyalah*
5.   Niat yang baik. Gunung itu beda sama rumah, jadi nggak usah sembarangan kalo lagi di gunung. Banyak yang ngintai kamu, tapi kamu nggak tau. Hiii~
Btw pas di pos 1 dan sebelum turun, saya sempet selfie dulu sama mas vokalis. Bentar ya, nih saya pamerin. (--,)



Saya cinta gunung, tapi bukan berarti saya harus memanjatnya. Seperti saya cinta kamu, apa saya harus memanjatmu supaya orang tau kalau saya cinta kamu? Tidak, kan? :)

No comments :

Post a Comment