23 January 2014

Ingkar

  1 comment
Dulu kita pernah sepakat bahwa menjalani hidup berdua sampai tua pasti bahagia, tapi mengapa kamu mengingkarinya?
***
“Oiya, Nit, kemarin Riko telfon aku.” Nadia mengeluarkan suaranya dengan nada sendu.
“Terus?”
“Dia ngajak jalan, Nit..” Nadia berkata sambil gelisah dan menggenggam handphone di tangan kirinya.
“Kamu terima ajakan dia?” Nita merespon dengan nada sedikit kesal dan meremas foto-foto Nadia.
“Enggak sih..”
******
10 bulan yang lalu…
Malam itu Nadia begitu bersemangat untuk kencan dengan kekasihnya, Riko. Mungkin karena seminggu ini begitu banyak deadline yang harus Nadia tangani, jadi Nadia ingin benar-benar melepas penatnya malam ini bersama sang kekasih. Riko pun begitu. Riko ingin menjadikan malam ini jadi malam yang spesial bagi dirinya dan kekasihnya.
“Sayang, malam ini mau ke mana?” sambil mengendarai motor sport-nya, Riko bertanya pada Nadia.
“Emm, aku pengen ke Bukit Bintang! Tapi makan dulu ya, aku belum makan. Hehe..” Nadia menjawab dengan nada manjanya.
“Bukit Bintang? Oke. Kamu mau makan apa?” Riko mengiyakan ajakan Nadia.
“Kalo makan, apa aja, terserah kamu deh..”
“Ngg, makan Nasi Goreng Kambing di Kota Baru aja yuk?”
“Yang mana?”
“Baratnya Legend itu.”
“Ooh. Yuk!”

Riko adalah orang yang enggak memesan makanan, maka setibanya di tempat makan, Nadia lah yang memesan 2 nasi goreng kambing. Satu pedas untuk Nadia, dan satu biasa untuk Riko. Satu es teh untuk Nadia, satu es jeruk untuk Riko. “Eh aku pengen es teh..” Riko nyeletuk.
“Nggak boleh! Kamu kan darah rendah. Inget itu!” Nadia tau apa saja yang tidak boleh dimakan Riko, dan tiap kalo Riko ingin memakan yang dilarang tersebut, Nadia akan mengomeli Riko.
“Duh, yowes..” Riko pasrah.
Setengah jam berlalu, Nadia dan Riko selesai makan. Khawatir akan kemalaman dan jalanan yang makin ramai, mereka pun langsung bergegas menuju bukit bintang.
“Woh! Rame banget.” Ucap Riko setibanya di Bukit Bintang.
“Malem minggu.. ya nggak usah heran gitu deh kalo rame.” Nadia menyambar kalimat yang baru saja diucapkan Riko sambil menoyor kepala Riko. “Tuh, di sana ada tempat kosong, yuk ke sana!” Nadia melanjutkan kalimatnya sambil menunjuk ke pinggir tebing lalu menggandeng tangan Riko.
Di pinggir tebing mereka terdiam, memandangi Jogja dari pinggir tebing. Udara malam di Bukit Bintang memang cukup dingin, dan perlahan, Riko dan Nadia saling mendekatkan diri.
“Nad..” Riko memanggil Nadia.
“Dalem…” Nadia menjawab manja sambil mengalihkan pandangannya ke Riko.
“Minggu depan, aku mau ke Jakarta” Riko berkata dengan perlahan.
“Mau ngapain?”
“Aku dapet tugas buat ditempatin di kantor pusat di Jakarta sana, Nad..” masih dengan perlahan, Riko menjelaskan pada Nadia.
“Hm? Berarti, kamu bakalan pindah?”
“Iya. Tapi cuma sementara kok.”
Sekarang bukan hanya Nadia yang di pinggir tebing, namun, Nadia juga merasa hubungannya pun sedang berada di pinggir tebing. Dan perlahan, raut wajah Nadia berubah menjadi putih pucat.
“Nad..” Riko mencoba menyapa Nadia yang memandangi Jogja dengan pandangan kosong.
Nadia tetap dalam lamunannya.
“Nadia..” kali ini suara Riko sedikit tegas.
“Apa?” tidak semanja tadi, kali ini nadia sedikit jutek.
“Aku tau, kamu nggak pernah mau LDR-an. Tapi, aku bener-bener pengen hubungan kita tetep berjalan.”
Nadia tidak merespon. Lalu Riko melanjutkan, “Aku sayang sama kamu. Kita pacaran udah lama, Nad. Aku cuma nggak pengen hubungan kita sia-sia gitu aja.”
“Tapi, Riko.. Aku nggak mau jauh dari kamu. Aku takut.”
“Nggak usah taku. Kita nggak akan terpisahkan. Kita nggak dipisahkan oleh jarak kok, kita itu disatukan oleh jarak, cuman, jauh.” Riko mulai mencoba meyakinkan Nadia sambil tersenyum.
“Hmm..”
“Sebagai janjinya, kita bakal ketemu 6 bulan lagi pas aku pulang. Di sini. Di tempat yang sama ini. Oke?”
Dengan ragu, Nadia mengangguk, pertanda menyetujui ucapan Riko. Nadia, perempuan agak tomboy namun manja ini sejak pertama pacaran, ia tak pernah mau menjalani hubungan jarak jauh. Bagi dia, buat apa punya pacar kalo mau ngobrol aja susah, mau main bareng aja susah, mau cubit-cubitan aja susah? Namun demi Riko, ia merelakan dirinya menjilat ludahnya sendiri.
*******
6 bulan kemudian…
Malam yang dingin di Bukit Bintang, awan kelabu pertanda hujan akan segera turun. Sudah sekitar setengah jam Nadia menunggu di pinggir tebing, tempat Nadia dan Riko berucap janji. Dengan hati penuh rindu, Nadia menunggu.
45 menit berlalu. Rintik gerimis mulai turun membasahi bumi.
60 menit berlalu. Hujan mulai sedikit lebat. Dan Nadia masih tetap menunggu penuh ragu.
Malam semakin larut, hujan mulai menunjukan tanda akan segera berhenti, namu sosok Riko yang dirindukan Nadia tak kunjung menghampiri. Tiba-tiba, handphone Nadia berhenti. Jantung seperti loncat dari dalam tubuhnya, Nadia kira itu telefon dari Riko, ternyata itu dari sahabatnya yang berada di Jakarta.
“Halo..” Nadia menjawab telefon Nita.
“Halo, Nad… Lagi ngapain?”
“Em, enggak ngapain, Nit. Kenapa? Tumben telpon?”
“Nggak papa sih. Hehe.. Ngomong-ngomong, kamu masih sama Riko nggak sih?”
“Iya, Nit. Masih. Tapi sekarang kita lagi LDR, dia dapet tugas di Jakarta.”
“Masih? Kok tadi aku liat Riko jalan sama cewek ya? Gandengan tangan gitu di Mall.”
Lagi, jantung Nadia seperti loncat dari tubuhnya untuk kedua kalinya. “Serius, Nit? Kamu nggak salah liat?” Nadia memastikan dengan nada sedikit terisak.
“Iya. Tadi aku papasan 2 kali, dan sempet aku foto juga sih. Nanti aku kirim aja lewat bbm ke kamu biar kamu mastiin sendiri.”
Setelah melihat sendiri foto yang diterima dari sahabatnya dan memastikan apakah itu Riko, hati dan perasaan Nadia terasa seperti jatuh dari pinggir tebing. Hancur semua berantakan. Lalu Nadia memunguti kepinga-kepingan hatinya, dan pulang dalam keadaan hujan; hujan di bumi, dan di hatinya.
******
4 bulan kemudian
4 bulan ini hidup Nadia begitu berantakan. Kamar yang tak pernah dirapikan, pekerjaan yang tak kunjung selesai, dan hati yang masih hancur berkeping-keping. Bagaimana bisa, Nadia yang tadinya sudah sepenuhnya percaya dan menyerahkan sepenuh hatinya kepada Riko, harus melupakan semua dan menjalani hidup seperti biasa? Padahal, menyerahkan sepenuh hati kepada orang lain, seperti memberikan sebilah pisau kepada anak usia 5 tahun.
Di kantor, Nadia menjadi pendiam. Padahal pada dasarnya Nadia adalah orang yang sumeh. Masuk kantor tak pernah terlambat, setiap ketemu orang selalu menyapa dahulu, sekalipun itu OB, pekerjaan selalu selesai sebelum deadline, dan mayoritas orang di kantor suka terhadap Nadia. Namun sudah 4 bulan ini, Nadia sering terlambat, mukanya lesu, pekerjaan selesai saat deadline, terkadang melebihi deadline.
Di rumah pun sama, Nadia lebih suka diam. Menjadi jarang bercanda bahkan bermain bersama adik perempuannya. Di dinding kamar Nadia, masih tersusun rapi foto-foto Nadia bersama Riko. Di atas meja kerja di samping tempat tidur, sebuah foto dengan bingkai hitam berdiri di samping laptop Nadia, memandangi tiap kali Nadia bekerja. Sebuah cermin yang menempel di dinding sebelah meja kerja, juga ada sebuah foto Nadia bersama Riko menempel di pojok kanan atas. Kamar Nadia masih penuh kenangan.
Akhirnya ponsel Nadia berdering, sebuah pesan singkat masuk membuyarkan lamunan Nadia.
“Nad, di rumah nggak? Aku ke rumahmu, ya?” dari Nita.
“Iya di rumah kok. Sini gih, nanti langsung masuk kamar aja” Nadia membalas pesan singkat Nita.
15 menit kemudian, Nita sudah berada di kamar Nadia.
“Ya ampun, Nad.. Kok masih banyak kek ginian, sih?” Nita bertanya sambil menunjuk-nunjuk foto-foto yang ada di kamar Nadia.
“Hehe..” Nadia hanya cengengesan.
Tanpa persetujuan terlebih dahulu, Nita mencabut semua foto-foto yang ada di dinding maupun cermin. “Eh Niiittt!” Nadia berontak dan menarik tangan Nita. “Awas, Nad. Kalo kamu terus-terusan ngeliat masa lalu kamu, kamu bakalan susah ngerancang masa depan kamu, Nad..” Nita melanjutkan mencabuti semua foto-foto Nadia, dan Nadia hanya bisa tertunduk pasrah.
“Oiya, Nit, kemarin Riko telfon aku.” Nadia mengeluarkan suaranya dengan nada sendu.
“Terus?”
“Dia ngajak jalan, Nit..” Nadia berkata sambil gelisah dan menggenggam handphone di tangan kirinya.
“Kamu terima ajakan dia?” Nita merespon dengan nada sedikit kesal dan meremas foto-foto Nadia.
“Enggak sih..”
“Oh, bagus deh.” Nita merespon apa adanya lalu berjalan menuju tempat sampah di sebelah meja kerja Nadia.
“Emm, tapi, Nit…”
Lalu Nita duduk di sebelah Nadia dan berkata, “Udah, deh. Riko itu nggak bener. Nanti juga pasti kamu dapet yang lebih baik dari dia, kok.. Kamu tuh jangan mental sandal jepit, mau-maunya diinjek-injek mulu perasaanmu sama Riko.” Nita mencoba menasehati sahabatnya, lalu memeluknya dengan erat.
Sambil memeluk sahabatnya, Nadia berkata, “Iya, Nit. Makasih ya..”
“Aku ke sini mau ngajak kamu jalan. Mau aku kenalin sama temenku. Buruan gih ganti baju!”
“Ha?” Nadia tersenyum malu lalu pergi bersama.
******

1 comment :