22 December 2013

Tapi Bukan Aku

  No comments
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang malas mengulang. Mengulang apa saja. Termasuk dalam mengulang hubungan. Itu yang terjadi pada Rio.
***
Dengan hati yang berdegup lebih kencang dari biasanya, Dita menanti mantan kekasihnya di sebuah tempat ngeteh sore itu. Dari balik kaca, langit senja berwarna orange-ungu, tapi hatinya kelabu. Dan tak lama kemudian, nada dering poselnya membuyarkan lamunan Dita.
Kamu di sebelah mana? Aku udah mau sampe.” dari Rio, mantan kekasihnya.
Di sebelah tempat biasa kita dulu” balas Dita dengan singkat. Tempat itu adalah di samping jendela yang sering memperlihatkan eloknya langit senja.
Suasana tempat menikmati senja sambil meminum teh sore itu sedang tidak begitu ramai. Tidak seramai seperti setiap kali dulu mereka menghabiskan Sabtu sore bersama.
Rio datang dengan gaya khas photografernya. Kaos hitam polos yang ditumpuk kemeja flannel hijau tua dengan garis hitam yang membentuk kotak-kotak dan celana jeans hitam yang sedikit kusam.
“Kamu abis motret ya?” Tanya Dita sesaat setelah Rio duduk di hadapannya. Dita hafal gaya pakaian Rio. Mana Rio yang abis motret, mana Rio yang hangout bareng temen-temennya, mana Rio yang dulu nge-date bareng Dita.
“Iya. Barusan motret di acara nikahan temen, terus disuruh kamu buat ke sini, yaudah aku mampir. Ada apa?” jawab Rio, dingin.
“Nggak ada apa-apa. Cuma pengen ngobrol aja.”
“Ooh” jawab singkat sambil matanya menatap ke luar jendela. Memperhatikan senja yang sedang mengintip sepasang mantan kekasih yang satunya begitu rindu, satunya lagi enggan bertemu, padahal juga rindu.
Dita kesal. Ingin dia protes dengan sikap dingin Rio, tapi Dita ingat satu hal; emang sekarang, aku siapanya Rio kalo aku mau protes gitu? Daripada sama-sama diam, akhirnya Dita berbasa-basi, “Kamu nggak pesen minum, atau makanan?” padahal Dita bukanlah orang yang suka basa-basi.
“Tadi udah pesen kok. Nanti kan dianter.”
“Oh. Kirain nggak pesen. Kamu kan biasanya gitu, nggak pesen kalo nggak dipesenin.”
Dari pandangan yang tadinya memandang jauh ke langit senja, lalu beralih pandangan Rio ke mata Dita. Seketika Dita salah tingkah. Dari mata Dita tersirat banyak rindu yang terpendam.
Rio hanya tersenyum. “Kamu kenapa kayak salah tingkah gitu?”
“He.. iya nih. Aku kalo sama orang baru emang suka salah tingkah gini”
“Orang baru?”
“Iya. Orang baru.”
“Kita kan udah kenal lama. Kita pernah pacaran 3 tahun lamanya. Maksud kamu orang baru itu apa?”
“Iya sih kita pernah selama itu ada sebuah hubungan. Tapi aku rasa, Rio yang ada di depanku sekarang ini bukan Rio yang dulu. Rio yang lain. Rio yang beda dari Rio yang dulu.”
“Oh, ya semua orang kan pasti berubah, Dit. Tak terkecuali, aku. Kuliahmu gimana? Kalo nggak salah, tinggal 1 semester lagi, ya?”
“Kuliahku ya, biasa. Membosankan. Iya 1 semester lagi aku selese kuliah”
“Baguslah”

11 December 2013

Kampret Family

  6 comments

Sejak kecil, saya adalah orang yang kurang percaya dengan adanya sahabat. Terlebih lagi sahabat sejati. Yang saya percayai adalah, Tuhan. *digaplok* enggak. Sejak kecil, saya hanya menganggap teman-yang-lebih-dekat-dengan-saya-dibanding-dengan-teman-yang-lainnya, adalah teman dekat. Bukan sahabat. Apalagi sahabat sejati. Tapi sejak saya kenal ‘mereka’, saya tau apa itu sahabat sejati. :))

Saya kenal dengan ‘mereka’ sejak pertengahan semester 1. Pertengahan menjelang akhir, ding. Awal-awal kuliah adalah awal yang sangat amat teramat begitu membosankan bagi saya. Saya adalah orang yang cenderung diam dan lebih baik menunggu disapa daripada menyapa terlebih dulu, maka dari itu, saya susah punya teman.

Sebenarnya orang pertama yang saya kenal waktu awal kuliah adalah si-anak-pintar-yang-agak-anti-sosial. Loh, bukannya kamu anti sosial juga, Yan? Enggak. Saya nggak anti sosial. Saya cuma pendiam. Itu saja. Hehehe.. lanjut! Anak ini anaknya rajin dan pintar, jadi saya sempat berfikir bahwa jika saya berteman dengannya selama kuliah, pasti tugas-tugas kuliah saya tak akan ada yang terasa rumit. Muehehueheuehe… tapi ternyata saya salah sangka. Susah sekali untuk berteman dengan dia. Dia seperti ‘memiliki kehidupan sendiri yang tak boleh diusik orang lain’. Pokoknya gitu. Kalo kamu belum maksud, maksudin sendiri lah. Udah gede juga.
Hingga tibalah pada suatu waktu dimana saya diajak oleh salah satu dari ‘mereka’ untuk berkumpul di beskem mereka. Hah! Awal kumpul bersama ‘mereka’, saya masih saja diam dan kaku. Kek kanebo kering. Huft.
Saya sempat khawatir jika saya tak bisa diterima di ‘keluarga kecil mereka’ karena saya yang terlalu seperti kanebo kering. Tapi ternyata, perlahan mereka bisa menerima saya dengan baik. *\(^o^)/*
Dan sampai sekarang, saya berteman baik dengan mereka, bahkan saya anggap mereka adalah ‘keluarga’ saya selama di Jogja. Ya emang sih saya punya banyak keluarga di Jogja ini, maksud saya, mereka adalah keluarga baru. Keluarga tanpa hubungan badan. Ya gitu. :))
Kalian penasaran nggak sih, siapa itu ‘mereka’ yang dari tadi saya ceritakan? Enggak? Yaudah.