07 August 2013

Tiga Titik Jadi Satu

  No comments
Lampu jalanan sudah mulai menyala, pertanda gelap akan datang menghampiri hari. Di sebuah tempat kopi di ujung jalan, 2 orang sahabat sedang bersama menghabiskan waktu sore mereka, sebelum malam menjemput, membawa mereka ke kesibukannya masing-masing.

“Eh istri lo apa kabar? Gue kangen main bareng anak lo nih.”
“Lah? Lo nanya kabarnya istri gue, tapi kangennya sama anak gue. Gimana sih?”
“Hahaha” Mail hanya tertawa.
Adi dan Mail bersahabat semenjak mereka bertemu di ospek fakultas di kampus mereka, dulu. Sebelum Adi menikah, mereka berdua sering kali menghabiskan waktu bersama di kala senggang. Entah hanya untuk ngopi-ngopi, atau menonton festival band bersama, atau apapun.Namun sekarang, Adi sudah berkeluarga, dan jarang sekali bisa berbagi waktu dengan sahabatnya yang masih sendiri. Kadang sebulan sekali, kadang tidak pernah.

“Eh, Di, udah berkali-kali gue pacaran, udah banyak tipe cewek yang gue pacarin, tap iujung-ujungnya selalu kandas. Padahal gue udah pengen seriusan. Umur udah hampir kepala tiga gini, nyokap nanyain ‘kapan nikah’ mulu. Huh!”
Adi yang sedang sibuk dengan ponselnya, belum menanggapi dengan serius ungkapan hati dari sahabatnya. “Elu emang belum waktunya kali..”
“Masa iya umur segini belum waktunya juga? Rumah sendiri udah ada, mobil punya, tabungan cukup lah buat biaya nikah, kerjaan ada, kurang apa lagi?” Mail berkeluh-kesah pada sahabatnya sambil mengendurkan dasi hitam yang masih mengikat kerah kemeja merahnya.
“Kurang calonnya. Hahaha..”
“Ah elu!” Mail menoyor Adi.
“Hahaha becanda, sob.” Adi meletakan ponselnya di meja, lalu menyeruput kopi hitam tanpa ampasnya dengan tambahan satu sendok gula. “Elo kalo pacaran, niatnya udah serius, pernah diniatin karena Tuhan nggak?” Adi mulai serius menanggapi curhatan sahabatnya.
“Maksudnya gimana tuh?”
“Maksudnya, pernah nggak, selama lo punya hubungan sama mantan-mantan lo yang dulu, lo melibatkan Tuhan gitu.”
“Kayaknya belom pernah deh. Dulu kalo gue punya pacar ya, ya wajar-wajar aja gitu. Biasa-biasa aja, nggak pernah gue pikirin karena Tuhan.”
“Nah itu. Harusnya lo juga melibatkan Tuhan dalam hubungan lo. Kan Tuhan juga yang nyiptain pasangan hidup elo nantinya.”
“Ooh gitu. Jadi selama ini gue salah ya?”
“Enggak salah, cuma belum bener aja.”
“Yee! Etapi, gimana tadi? Gue belum ngeh sama kata-kata lo yang melibatkan Tuhan tadi.”
“Gini ya, lo pernah perhatiin nggak, kalo lo ngetik tiga titik di ms word, tiga titik itu bakalan jadi satu kesatuan, jadi satu karakter, dan nggak bisa dipisahkan gitu, selamanya.”
“Selama-lama-lama-lamanya?” Mail meledek Adi yang mulai serius bicara. Mail memang tipe orang yang susah serius, hidupnya penuh gurauan dan candaan.
“Nggak usah mulai deh… Gue serius nih.”
“Hahaha… iya-iya, pernah kok gue ngetik gitu, tapi nggak gue perhatiin sih. Gimana lanjutannya?”