27 April 2013

Janji

  7 comments

“Frisca Hartanto itu siapa?!” kamu bertanya dengan nada tinggi

Aku hanya terheran. Setan mana yang sedang merasuki bidadari? “Siapa sih itu? Kamu kenapa tiba-tiba sewot?”

“Halah. Dia anak mana lagi yang kamu sepikin?”

Ya. Aku sadar, aku keterlaluan. Sudah punya bidadari, masih saja suka nyepik manusia biasa. Tapi itu dulu. Sekarang aku sadar, bahwa tak ada yang lain yang pantas untuk disepik, kecuali kamu. “Hei, kamu itu kenapa? Coba ceritakan dulu apa masalahnya, biar aku tidak salah tanggap.” Huh! Sepertinya akan jadi malam yang panjang.

“Tadi si Frisca itu kirim pesan ke facebook aku, dia cerita segalanya tentang kamu. Tentang kamu dan kedekatanmu bersamanya. Tentang kamu dan kebahagiaanmu bersamanya. Tentang kamu, aku, dan hubungan kita yang sudah tak pantas dipertahankan, katanya” sepertinya setan pun akan takut jika melihatmu marah seperti sekarang ini. Sambil memegang garpu dan sendok, yang seharusnya untuk menyantap nasi goreng di depanmu, malah terlihat seperti untuk menusukku.

“Frisca siapa? Sumpah, demi nasi goreng di depan kita yang hampir dingin ini, aku tak mengenalnya.” perlahan rasa laparku tergusur karna amarahmu.

“Kamu mau bohongin aku lagi, apa gimana? Apa kita sudahi saja hubungan ini?”

“Siapa yang bohong? Kali ini aku bicara apa adanya. Dulu memang sering, perempuan sana-sini aku goda. Tapi sekarang, menyapa perempuan pun aku enggan.”

“Kalau begitu, apa maksudnya si Frisca bercerita seperti itu?”

“Mungkin dia gila.”

“Tapi tadi tuh, dia nyebelin banget tau! Dia bilang, kamu sama dia sering ketemuan diem-diem. Sering makan bareng diem-diem. Dan dia juga bilang, kamu sama dia udah saling suka. Sedangkan aku, hanya buat mainanmu saja selama ini. Dia juga bilang, “kamu tuh kasihan. Pacarmu hanya mempermainkanmu, tapi kamu saja yang bodoh, dipermainkan tapi tak sadar” hiiiihhh!!!” brak! Emosimu membuat tanganmu menggebrak meja. Untung warung yang kita datangi malam itu tidak begitu ramai.

“Hei sayang, dengarkan baik-baik, demi apa pun, aku tak tahu siapa itu Frisca. Dan apa motifnya dia bercerita seperti itu padamu, aku pun tak tau.”
Mukamu masih merah. Jelas sekali kamu marah. Pandanganmu terlempar jauh ke hiruk pikuk kota, malam itu.

Aku genggam tanganmu, lalu berkata “maaf kalo selama ini aku sering menggoda banyak perempuan dan itu cukup membuatmu geram. Tapi percayalah, kali ini aku tidak berulah lagi, dan seterusnya pun akan begitu.”

Memang tanganmu ku genggam, tapi pandanganmu masih geram.

“Saat rambutku mulai rontok pun, yakinlah ku tetap setia.”


“Kamu janji, ya?” matamu mulai sayu. Senyummu masih malu-malu. “Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku nggak mau kamu nakal”

“Janji! Kita akan lawan bersama, dingin dan panas dunia. Dan saat kaki telah lemah, kita akan saling menopang.”

“Mulai pret lagi deh…”

“Ini serius, sayang. Kita akan selalu bersama, hingga di suatu pagi nanti, salah satu dari kita mati, barulah kita berpisah. Namun itu hanya sementara, karna kita akan dipertemukan lagi, di kehidupan yang lain.”

“Hih udah deh. Yuk makan aja, kasian nasi gorengnya kita kacangin tuh”

Dan ternyata, malam ini tak panjang, tak seperti yang ku banyangkan sebelumnya.
Saat aku lanjut usia
Bukan tangan saya dan pacar saya
Terinspirasi dari lagu Sheila On 7 - Saat Aku Lanjut Usia

7 comments :

  1. Baik banget sih kamu .. udah mau bikinin ini buat aku :)))
    wkwkwkkwkwkw

    ReplyDelete
  2. Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, sudah meluangkan waktu untuk singgah. :)

      Delete
  3. Luar biasa ya, makin mempesona aja nih :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini masih biasa kok. terima kasih untuk singgah dan berkomentar. :))

      Delete
  4. keren kak.. :)
    cuma kurang panjang hehe

    ReplyDelete