24 March 2013

Senja di Bantalan Rel Kereta

  2 comments

Akhirnya ku menemukanmu
Saat ku bergelut dengan waktu..

***

“Selama ini, kamu serius kan sama aku?”
“Tentu.”
“Tapi kenapa kamu nggak pernah terlihat serius?”
“Serius kan nggak selalu harus terlihat serius.”
Kamu terdiam. Sebuah ular besi melintas di hadapan kita sore itu. Bising. Debu-debu berterbangan seenaknya.
“Tiga tahun yang lalu, aku bukan apa-apa. Aku seperti debu-debu itu. Terombang-ambing oleh angin yang dengan seenaknya mengombang-ambingkannya. Aku rapuh. Serapuh kelopak sang mawar yang disapa badai. Gontai.” Aku meracau sambil memandang jauh ke depan, kosong, tapi isi. Kamu melempar-lemparkan kerikil kecil yang ada di sekitarmu ke depanmu. Berulang-ulang.
“Lantas?”
“Kamu tau kan, semua akan kembali ke asalnya? Seperti manusia yang tercipta dari tanah, akan kembali dari tanah. Kamu pun begitu. Kamu tercipta dari tulang rusukku. Dan kamu akan kembali ke aku. Dan, benar kan, sekarang kamu kembali ke aku.”
“Kamu yakin? Alasannya?”
“Aku yakin. Sebab, semenjak ada kamu, hidupku jadi lebih hidup. Sebelumnya, dengan yang sebelum-sebelumnya, aku belum pernah merasakan hidupku jadi lebih hidup.”
“Tapi selama ini, aku rasa aku lebih banyak nyebelinnya buat kamu. Bukan bikin seneng.”
“Entahlah. Kamu emang banyak nyebelinnya, banyak bikin kesel, tapi aku selalu bisa memaafkan. Barangkali itu karena … cinta?”
Kamu menghela nafas. Satu ular besi pun melintas di depan kita, lagi. Lagi-lagi bising. Terpaksa kita terdiam beberapa saat, menikmati hening yang menyela pembicaraan kita.
“Kamu tau nggak, duduk berdua denganmu saja, seperti sekarang ini, hatiku seperti burung camar yang takkan berhenti bernyanyi.”
Akhirnya senyummu yang meneduhkan itu berkembang. “Sayaannggg! Kamu apaan sih dari tadi? Kesurupan ya?” dan cubitanmu mendarat di pinggangku saat itu juga.
“Kalo bisa, aku pengen bahagiain kamu selamanya. Bolehkah?”
“Boleh! Asal…”
“Asal?”
“Asal kamu jamin selamanya aku bahagia sama kamu” kelopak matamu menyipit. Lagi-lagi kamu pamerkan senyummu. Hampir saja aku meleleh karna senyum itu.
“Heh, kamu jangan lama-lama senyumnya. Aku bisa meleleh.”
“Pret!”
“Kita udah jalan lama ya. Hampir 3 tahun.”
“Iya. Selama ini belum pernah aku jalan selama ini sama cowok tengil macem kamu. Wek!”
“Hehehe.. Eh, berkhayal yuk! Kita bayangin masa depan kita”
“Hm…”
Ada hening yang mengusik. Mungkin kita sedang sama-sama berkhayal, dalam lamunan masing-masing.
“Nanti anak kita dua. Yang pertama cowok, ke dua cewek. Biar nanti adek cewek ada yang jagain, kakaknya. Hihi lucu.” Kamu mulai menyuarakan lamunanmu itu. Aku tersenyum.
“Lalu?”
“Saat kita tua nanti, saat anak-anak kita sudah dewasa, aku ingin menghabiskan tiap soreku bersamamu di halaman belakang. Menunggu mentari terbenam, ditemani secangkir teh hangat.”
“Khayalanmu jauh banget deh udah sampe tua. Hahaha”
“Biarin! Namanya juga berkhayal kok. Yang namanya berkhayal kan bebas, mumpung bebas, buatlah semenyenangkan mungkin. Hehe”
“Beruntung ya aku punya kamu. Kalo aku berkhayalnya nggak neko-neko. Pengen tau nggak?”
“Em, enggak. Weee”
“Hih!”
Tubuh kita makin merapat. Kamu merangkul lenganku, lalu menyandarkan kepalamu di bahuku. Wangi parfummu masih terasa. Segar. Padahal sudah seharian ini kita jalan-jalan, dan aku pun sudah mulai busuk.
“Kalo nanti kamu jadi istriku, aku nggak minta neko-neko kok. Pahami aku saat menangis. Lelaki sejati juga boleh nangis kan..”
“Tentu!”
“Saat kamu jadi istriku nanti, jangan pernah berhenti memilikiku, ya.. Hingga ujung waktu.”
“Hingga ujung waktu.. hm, iya” rangkulanmu di lenganku makin erat. Sebuah ular besi lagi-lagi melintas di depan kita. Samar-samar terlihat matahari yang hampir terbenam yang seakan mengintip kita di sela-sela gerbong si ular besi.

***

Saat aku berkhayal denganmu
Dan janji pun terakhir sudah..  
Terinspirasi dari lagu Hingga Ujung Waktu - Sheila On 7

2 comments :