25 March 2013

Embun Pagi

  No comments
rindu embun pagi, rindu, kangen
Semalam aku menitipkan rindu pada rembulan
Sebelumnya aku berpesan pada rembulan
Supaya menyampaikan rindu itu
Pada embun pagi terlebih dahulu
Agar rinduku memelukmu pagi itu
Bersama embun yang menyelimuti pagimu
Sudah sampaikah rinduku?
Jika sampai, tersenyumlah
Semoga pagimu hangat
Dan harimu indah
Dari aku, yang merindu..

24 March 2013

Senja di Bantalan Rel Kereta

  2 comments

Akhirnya ku menemukanmu
Saat ku bergelut dengan waktu..

***

“Selama ini, kamu serius kan sama aku?”
“Tentu.”
“Tapi kenapa kamu nggak pernah terlihat serius?”
“Serius kan nggak selalu harus terlihat serius.”
Kamu terdiam. Sebuah ular besi melintas di hadapan kita sore itu. Bising. Debu-debu berterbangan seenaknya.
“Tiga tahun yang lalu, aku bukan apa-apa. Aku seperti debu-debu itu. Terombang-ambing oleh angin yang dengan seenaknya mengombang-ambingkannya. Aku rapuh. Serapuh kelopak sang mawar yang disapa badai. Gontai.” Aku meracau sambil memandang jauh ke depan, kosong, tapi isi. Kamu melempar-lemparkan kerikil kecil yang ada di sekitarmu ke depanmu. Berulang-ulang.
“Lantas?”
“Kamu tau kan, semua akan kembali ke asalnya? Seperti manusia yang tercipta dari tanah, akan kembali dari tanah. Kamu pun begitu. Kamu tercipta dari tulang rusukku. Dan kamu akan kembali ke aku. Dan, benar kan, sekarang kamu kembali ke aku.”
“Kamu yakin? Alasannya?”
“Aku yakin. Sebab, semenjak ada kamu, hidupku jadi lebih hidup. Sebelumnya, dengan yang sebelum-sebelumnya, aku belum pernah merasakan hidupku jadi lebih hidup.”
“Tapi selama ini, aku rasa aku lebih banyak nyebelinnya buat kamu. Bukan bikin seneng.”
“Entahlah. Kamu emang banyak nyebelinnya, banyak bikin kesel, tapi aku selalu bisa memaafkan. Barangkali itu karena … cinta?”
Kamu menghela nafas. Satu ular besi pun melintas di depan kita, lagi. Lagi-lagi bising. Terpaksa kita terdiam beberapa saat, menikmati hening yang menyela pembicaraan kita.
“Kamu tau nggak, duduk berdua denganmu saja, seperti sekarang ini, hatiku seperti burung camar yang takkan berhenti bernyanyi.”
Akhirnya senyummu yang meneduhkan itu berkembang. “Sayaannggg! Kamu apaan sih dari tadi? Kesurupan ya?” dan cubitanmu mendarat di pinggangku saat itu juga.
“Kalo bisa, aku pengen bahagiain kamu selamanya. Bolehkah?”

15 March 2013

Jika Semesta Memisahkan Kita

  No comments


semesta, hujan, putus, mati, pisah

Tersenyumlah saat kamu mengingatku
Karna saat kamu mengingatku, saat itu aku merindumu
Menangislah saat kamu merinduku
Jika saat kamu merinduku, aku tak kunjung ada di sisimu
Tapi, coba sejenak pejamkan matamu
Dengarkan lagu yang biasa kita nyanyikan bersama
Karna saat itu, aku akan terasa dekat denganmu
Sebab aku ada di lubuk hatimu. Lihat? :)

Kamu adalah kumpulan partikel-partikel yang sudah terbentuk menjadi manusia terindah yang pernah aku temui
Kamu bagaikan embun pagi yang melengkapi sejuknya udara pagi
Pagi ku tak akan lengkap jika tanpamu
Walau sesejuk apa pun embun yang menyelimuti pagiku

Kita seperti sepatu dan kaos kaki
Aku sepatu, yang melindungimu dari panas dan debu
Kamu kaos kaki, yang busuk. *eh, konsen, Crit, konsen!! -__-*

07 March 2013

Kita

  No comments


20:11, di sebuah kafe di tengah kota pelajar.

“Sayang, kita kan udah lama pacaran”
“Terus?”
“Kamu pernah nggak ngerasa bosen gitu?”
“Bosen? Bosen gimana? Bosen sama siapa?”
“Ya bosen lah. Sama aku, atau kita?”
“Kadang pernah sih..”
“Lalu?”
“Lalu bosennya ilang sendiri.”
“Bosen sama aku, atau kita?”
“Sama kamu pernah, sama kita pernah, bahkan sama apa yang kita jalani sekarang ini juga pernah. Tapi nggak berapa lama kemudian, rasa bosen itu sirna kok.”
“Hilang gitu aja?”
“Yap.”
“Kok bisa?”
“Kamu tau nggak? Rasa sayang itu, bisa ngalahin segala rasa yang mencoba menghalangi rasa sayang itu untuk muncul dan berkembang.”
“Lantas?”
“Lalu lintas, maksud kamu? Hahaha..” kamu malah bergurau. -_-
“Bukan, hih!” -_-
“Hehe, bercanda, sayang. Ya lantas, rasa sayang itulah yang menghapus rasa bosan itu dengan sendirinya. Dengan cepatnya.”
“Keren ya.. hihi”
“Apanya?”
“Kamu. Eh, bukan cuma kamu ding. Aku juga keren. Ngg, nggak cuma kamu aku ding, kita juga keren.”
“Ada yang kurang tau!”
“Apa?”
“Rasa sayang kita juga keren. Wee..” kelopak matamu turun ke bawah, hampir tidak terlihat bola matamu yang putih itu. Lucu.
“Hihi kamu bisa aja deh. Ngomong-ngomong, kamu nggak pernah kepikiran buat berpaling dari aku? Hehe, maaf kalo tanyanya agak kurang nggak enak.”
“Enggak tuh.”
“Sama sekali nggak pernah?”
“Iya. Buat apa kita cari yang lain lagi kalo kita udah punya? Pemborosan. Lagian, hatiku cuma muat buat ditempatin satu orang. Kamu.”
“Kalo aku ijinin kamu buat selingkuh, gitu, kamu mau nggak?”
“Emang kamu bakalan ngijinin?”
“Ya nggak bakalan sih. Cuma pengen tau aja gitu, seandainya lhoh..”
“Mau. Mau nggampar kamu! Kasih ijin kok buat yang aneh-aneh.”
“…”