28 February 2013

Di Sebuah Kafe Sore Itu

  2 comments
jalan keluar, hati, hujan, kafe, rintik hujan, tertatih, cerpen


Sore itu, kita sudah duduk terdiam berjam-jam di sebuah kedai kopi. Secangkir moccacino yang telah dingin yang kamu pesan dan secangkir kopi hitam yang tersisa setengah cangkir menjadi saksi bisu kita membisu.

Aku mencoba menebak-nebak apa yang ada di dalam pikiranmu, namun kali ini sangat sulit untuk menembus pikiranmu itu. Lebih sulit dari pada yang biasa aku lakukan.

Akhirnya setelah membisu seperti batu begitu lamanya, satu kata terucap dari mulut mungilmu. “Raka..” ya, kamu memanggil namaku dengan nada sendu. Terakhir kali aku dengar kamu memanggilku dengan nada seperti itu saat hubungan yang kita bangun hampir 3 tahun ini hampir kandas. Seketika otakku pun merespon nada itu, pasti ada yang tidak beres.

“Aku pengen kita udahan deh” kamu melanjutkan. Jantungku serasa loncat dari singgah sananya.

Ada hening yang menyambangi kita lagi.

Setelah akhirnya kamu menyeruput secangkir moccacino dinginmu, akhirnya kamu melanjutkan “Aku udah nggak kuat kita kayak gini terus. Aku capek, Raka..” sambil matamu mengarah ke awan-awan gelap di balik jendela. Namun aku tau, kamu tidak menatap apapun.

Otakku langsung merespon kalimat yang baru saja kamu ucapkan, lalu seketika membawaku ke masa lalu, masa di mana awal-awal kita bersama.

Dari dulu memang kita sulit untuk terbuka dengan satu sama lain. Sampai sekarang pun aku tak tau apa penyebabnya. Aku seperti merasa kamu tak pernah sedikit pun memberi hatimu, namun tetap aku tetap memaksakan mencari hatimu yang (aku rasa) tak pernah kau beri.

Sikapmu memang manis. Senyummu pun menawan hati. Lelaki mana sih yang di dunia ini yang tidak jatuh hati pada senyummu? Ha.


“Kamu yakin kita mau udahan? Apa yang salah?” aku mencoba meyakinkanmu dan diriku sendiri, serta menanyakan apa yang salah selama ini.

“Kamu ngerasa nggak sih kalo aku kurang nyaman sama kamu?” jadi kamu memang tak pernah memberikan hatimu sepenuhnya? Ucapku dalam hati di sela-sela kalimatmu. “Kamu emang baik, perhatian, pengertian, tapi aku nggak pernah merasa bisa memperlakukanmu seperti kamu memperlakukan aku” kamu pun menghela nafas.

“Lalu?” alisku terangkat, mataku mecoba mencari-cari matamu yang kamu palingkan.

“Aku kasian sama kamu, kalo nantinya kamu nggak mendapatkan apa yang berhak kamu dapatkan dari pasanganmu. Kayak perhatian, pengertian, sikap baik, dsb yang seperti selama ini kamu tunjukkin ke aku. Aku mau kita udahan aja, aku takut kalo lebih lama, nantinya kamu nyesel.”

“Udahan sekarang? Nggak bisa diperbaiki dulu, Rin?”

“Kita udah pernah nyoba kan waktu itu buat memperbaiki, tapi nyatanya aku nggak bisa. Aku nggak sanggup.”

Entahlah. Saat itu juga, pikiranku langsung kacau dan beberapa komponen otakku sepertinya error. Hatiku terasa seperti tenggelam dalam palung lautan terdalam. Gelap. Penuh hewan buas. Menyedihkan.

“Jika memang tiada harapan, lagi, boleh aku minta tolong kali ini saja padamu?”

“Apa?”

“Tolong tunjukkin mana jalan keluar dari hatimu? Sudah lama aku berdiam di situ, sudah nyaman, tapi saat ingin keluar, hatimu terasa seperti labirin.”

Kamu pun terdiam.

Rintik hujan mulai membasahi kaca kafe yang kita tempati sekarang. Rintik tangisku pun mulai membasahi dinding-dinding hatiku saat membayangkan hubungan kita berakhir.

“Rin.. jawab. Jika memang tak akan bersanding, aku cuma minta itu kok. Setelahnya, aku berjanji tak akan kembali lagi ke hatimu maupun mengusik kehidupanmu. Tapi jika kamu tak menunjukkan jalan keluarnya, aku akan tetap di situ.”

“Tapi mana mungkin bisa, Raka? Aku nggak tega kalo nantinya kamu menyesal. Penyesalan di akhir biasanya tiada akhir..” dengan nada berat kamu berbicara.

“Rin, walau tertatih, walau tercabik, khilafkan putih, hanya kau mimpiku.. Manusia kan boleh bermimpi setinggi apa pun, tapi jangan sampai lupa untuk mewujudkannya. Dan aku, akan mewujudkan mimpiku, kamu.” Aku masih berusaha meyakinkanmu.

Rintik hujan pun perlahan menjadi hujan. Deras. Kelabu. Dingin.

Perlahan tangismu pun pecah.

“Kamu kenapa malah menangis?”

“Aku nyesel, Raka. Belum pernah ada lelaki seserius ini sama aku. Aku nyesel belum bisa jadi yang terbaik buat kamu. Maaf.” sampai saat ini pun kamu belum berani menatap mataku.

“Aku nggak nyesel kok. Bersamamu saja sudah membuatku bahagia. Kalau saja kamu berbuat lebih, pastinya nggak akan ada kebahagiaan yang lebih dari itu.”

“Makasih ya. Kamu mau kan bantu aku biar jadi yang terbaik buat kamu?” akhirnya pandanganmu mengalih padaku.

Aku pegang lembut tanganmu, dan aku katakan “Pasti!”

Dengan peluk sambil memandang hujan yang membuat bumi kelabu, kita habiskan sore yang sendu itu.

 
Terinspirasi dari lagu Jalan Keluar dan Tertatih - Sheila On 7.

2 comments :