23 January 2013

Teruntuk Kamu

  10 comments
Teruntuk kamu, yang sudah melupakan cinta kita (yang dulu pernah ada).

Apa kabar? Cinta kita (yang sudah kamu lupakan) ingin tahu kabarmu. Aku dan cinta kita berharap kamu masih sehat dan tetap ceria seperti dulu. Atau mungkin lebih ceria. Ya walau ceriamu sekarang karena kekasih barumu, sebenarnya itu masalah, namun, apa daya bagiku?

Malam ini, awan kelabu menyelimuti bumi, di luar sana hujan lebat, dan angin bertiup dengan hebat. Apakah kamu berada di dalam rumah dengan pakaian hangat dan secangkir teh panas, saat ini? Lagi-lagi cinta kita (yang sudah kamu campakkan) menanyakan keadaanmu. Dia khawatir, kalau saja kamu sedang di luar rumah dan kedinginan. Oh, tak lama kemudian dia sadar, mungkin dia tidak perlu khawatir lagi, pasti kekasih barumu sudah menghangatkanmu dengan peluknya, kan?

Selain membawa berkah, hujan juga turut membawa kenangan. Ya, kenangan tentang aku, kamu, dan cinta kita (yang bukan lagi apa-apa bagimu) perlahan membesit di benakku. Tentang bagaimana semesta mempertemukan kita. Tentang bagaimana cinta kita mulai tumbuh lalu perlahan menjembatani hatiku dan hatimu hingga jembatan itu menjadi kokoh dan megah. Sampai tentang bagaimana kamu menyia-nyiakan cinta kita yang sungguh mempesona, dulu. Rasanya, hatiku seperti tersayat-sayat ketika memori itu kembali melintas di otakku.

Oh iya, tahukah kamu, bagaimana keadaan cinta kita (yang kamu sia-siakan begitu saja) sekarang? 3 hari yang lalu aku sempat mengunjunginya. Dia terlihat begitu rapuh, seperti kayu yang termakan usia dan diselubungi rayap. Tetapi dia tetap mencoba untuk tegar, walau kenyataan tak seindah harapan, walau tiada lagi yang menemani, walau tiada lagi yang peduli. Padahal, dulu, dia begitu bersemangat menghadapi hari-harinya, begitu hebat, begitu kuat, saat aku dan kamu menemani dia. Ya, walaupun hanya aku dan kamu yang menemani cinta kita, tetapi dia bisa menjadi begitu super.

Sekarang, cinta kita (yang dulunya begitu super) sedang merindukanmu. Sungguh merindu. Dia ingin sekali dijenguk olehmu, tap apalah walau hanya sesekali. Tak apalah walau kamu akan menjenguk dia bersama cinta barumu, yang terpenting kamu mau menjenguknya, urusan kamu datang dengan cinta barumu atau tidak itu belakangan, katanya. Bisa kan kamu luangkan waktumu sejenak untuk menjenguk dia? Lewat surat ini, aku memohon kepadamu, cinta pertamaku. Sebelas menit saja, itu sudah lebih dari cukup.

Dan sebelum surat ini berakhir, aku ingin katakan, “Aku dan cinta kita (masih) mencintai kamu”. Tertanda, aku dan cinta kita (yang dulu pernah ada).

10 comments :

  1. yaampun terharu biru kelau deh bacanya(?) :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. aih, makasih ya. :) tapi plis, nggak usah lebay gitu. week. :D

      Delete
  2. Hujan memang doyan banget menuntun kita ke dimensi lain, dimana berjajar rapi di dalam sebuah ruangan frame frame yang kita sebut kenangan. Entah itu sebuah karena perasaan, atau memang itu adalah misteri alam. Entahlah. Muahuehuehue

    ReplyDelete
    Replies
    1. berbelit-belit bener, Hid? :D tapi makasih ya sempet mampir sambil ninggalin komeng. :))

      Delete