31 January 2013

Hujan di Purwokerto

  No comments

Sebulan yang lalu, saya iseng-iseng ikutan lomba menulis cerpen yang bertema #CeritaCintaKota. Iye, itu loh lomba yang dibikin sama @_PlotPoint. Dan tahukan kamu? Saya nggak menang. Apa? SAYA NGGAK MENANG. Jelas? Puas? -,-
Dan karna enggak menang, saya posting saja lah cerita pendek (absurd+cemen) saya. Ini mengerikan loh, masih yakin mau baca? Kalo enggak, buruan close tab ini!
.
.
.
.
.
.
Loh? Masih kekeuh mau baca? Ya sudah, saya sudah katakan sebelumnya, ini mengerikan. Segala hal yang terjadi setelah kamu membaca cerpen di bawah ini, bukan merupakan tanggung jawab saya. Mari disimaaaakk~

Hujan di Purwokerto
oleh: Brian Ramadhan Putra
hujan, kenangan
Gambar dari sini
 
 It’s you.. yes it’s you that I adore~
It’s you.. who makes my life so colorfull~
(Mocca – You)
Hujan lebat mengguyur Purwokerto sore itu. Rasya dan Vino berteduh di depan sederetan ruko yang terletak di timur Tamara Plaza. Mereka berdua adalah sepasang sahabat yang sebenarnya saling jatuh hati, namun terlalu pengecut untuk mengakuinya.
“Vin, kamu tahu apa yang aku suka dari hujan?” tanya Rasya sambil mengusap-usap bahunya sendiri karna kedinginan.
“Emm.. hujannya!” Vino menjawab dengan nada sotoy.
“Bukan ih. Sok tau kamu. Yang aku suka dari hujan itu, pelangi. Pelangi itu indah, dan aku selalu yakin bahwa setelah hujan pasti ada pelangi. Ya, walaupun pelanginya entah muncul di mana, sih. Hehehe..” Rasya tertawa renyah.
“Itu mah berarti bukan hujannya yang kamu suka, tapi pelanginya. Woo..” Vino menoyor kepala Rasya.
“Hih! Tapi kan mana mungkin ada pelangi tanpa hujan? Hayo? Makannya aku suka hujan.”
“Berarti ibaratnya nih, kamu lebih suka sedih dulu, baru habis itu kamu bahagia. Gitu bukan?” lagi-lagi Vino berbicara dengan nada sotoy.
“Ya nggak gitu juga sih, Vin. Ih.. kamu deh.” Rasya cemberut akan ke-sotoy-an Vino.
“Hujannya kok nggak reda-reda ya, Sya? Kita jadi berangkat bimbel nggak nih?”
“Kalo nggak reda-reda ya udah, kita di sini aja. Haha” sampai akhirnya, Rasya dan Vino tindak menghadiri jadwal bimbel hari itu lantaran hujan.
Percakapan itu terngiang-ngiang di kepala Rasya saat ia memandangi hujan dari kamarnya sampai sebuah sms membuyarkan lamunannya.
Rasya, main yuk? Aku lagi liburan nih, sekarang udah di Purwokerto. Vino.
Jantung Rasya hendak loncat usai membaca sms itu.
******
Satu tahun yang lalu, dua sahabat yang saling jatuh hati namun pengecut ini terpaksa dipisahkan oleh keadaan sebelum mereka saling mengakui bahwa mereka saling jatuh hati.
Vino, seorang anak basket yang digandrungi banyak gadis-gadis saat masih SMA ini akhirnya melanjutkan sekolahnya di Australia. Vino beruntung bisa mendapatkan beasiswa dari sebuah Universitas yang tersohor namanya di Australia. Vino tidak mau melewatkan kesempatan bersekolah di luar negeri ini, maka dengan resiko apa pun, ia akan tetap pergi ke Australia untuk menempuh pendidikan yang ia idam-idamkan sejak kelas 2 SMA.
Rasya, gadis bertubuh mungil dengan kacamata yang selalu melekat di depan dua bola matanya itu merupakan sahabat Vino sejak masih SMP. Rasya hafal makanan kesukaan Vino; nasi goreng ekstra pedas. Rasya hafal warna baju favorit Vino; merah. Rasya hafal di mana Vino suka bermain basket; GOR Satria. Hampir semua tentang Vino, Rasya tahu. Hanya satu yang sampai saat ini Rasya belum tahu, isi hati Vino.
Wah Vinoooooo... kamu kapan sampe Purwokerto? Kok nggak ngabarin aku dulu? Ayok main, tapi sekarang hujan. :(
Jantung Rasya berdegup 3 kali lebih kecang dari biasanya. Seperti bunga yang baru merekah, begitu segar, penuh warna, dan ceria. Mungkin begitulah suasana hati Rasya saat itu.
Hehe, emang sengaja nggak ngabarin kamu dulu. Kemarin lusa aku baru sampe Purwokerto kok. Btw, besok kita keliling Purwokerto, yuk! Besok aku jemput kamu jam 8 pagi. Aku kangen sama Purwokerto, sama kamu juga.
Deg! Jantung Rasya hampir loncat untuk kedua kalinya saat selesai membaca kalimat terakhir dari isi sms yang dikirimkan oleh Vino. Seketika hujan pun reda, dan pelangi perlahan menampakkan dirinya. Pelangi itu menyinggahi hati Rasya.
Oh no,  I think I’m in love with you...
Oh no, I think I’m in love with you, oh no~
(Mocca – You)
******
“Aduh, tumben anak mamah udah bangun jam segini. Udah mandi pula. Mau ke mana kamu? Kencan ya?” mamah Rasya menggoda putrinya yang sudah cantik pagi-pagi seperti ini.
“Ih, mamah.. enggak. Rasya cuma mau nemenin Vino jalan-jalan kok.” raut muka Rasya pagi itu begitu ceria, lebih ceria daripada matahari pagi.
“Vino? Vino lagi di Purwokerto? Kapan dia balik?” mamah Rasya pun tahu kalau Vino adalah sahabat Rasya. Waktu SMA, Rasya dan Vino sering berangkat bimbel bersama dan belajar bersama di rumah Rasya, maka tak heran jika mamah Rasya kenal baik dengan Vino.
“Iya, mah.. katanya sih 3 hari yang lalu dia sampe Purwokerto. Udah yah, Vino udah nunggu di depan tuh.”
“Eh, enggak sarapan dulu? Sya, Sya..”
“Nggak usah, mah. Nanti sarapan di jalan aja deh.”
“Hmm.. mentang-mentang. Ya udah, hati-hati ya, Sya. Salam buat Vino..”
“Iya, mah. Dadah mamah..” Rasya mencium tangan mamahnya. Tidak pernah sekali pun Rasya tidak mencium tangan mamahnya ketika hendak pergi. Rasya memang gadis mungil yang sangat menghormati orang tuanya.
******
Pagi itu matahari bersinar cerah, burung-burung bernyanyi riang di ranting-ranting pohon, embun pagi masih setia menemani daun dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Baturaden!
Ternyata Vino membawa Rasya ke Baturaden pagi itu. Udara dingin Baturaden pagi itu membuat orang-orang yang datang sepagi ini ke Baturaden enggan melepaskan jaketnya. Sungguh dingin, namun sejuk. Begitulah hawa di sekitar tempat wisata yang berada di lereng Gunung Slamet itu.
“Lama ya, Sya. Kita nggak ke sini. Ternyata banyak perubahan. Haha”
“Perubahan apanya? Perasaan ya gini-gini aja deh.”
“Itu loh, sekarang ada pesawat di sini. Itu pesawat beneran, kan? Atau hanya imajinasiku belaka?” tanya Vino meyakinkan.
“Ohhh... iya itu pesawat beneran dong. Waktu itu ada pesawat nabrak Gunung Slamet terus jatoh, nah, puing-puing pesawatnya dikumpulin terus dibikin pesawat itu deh. Haha” Rasya mulai mengarang ceritanya sendiri.
“Ngaco kamu ya..” Vino menoyor Rasya, toyoran Vino masih sama seperti toyorannya setahun yang lalu. “eh, Sya, naik ke pancuran 7 yok!” lanjut Vino dengan penuh semangat.
“Hah? ke pancuran 7? Capek, Vin. Males. Tapi kalo kamunya mau gendong sih, ayok. Haha”
“Yah, masa nggak mau? Aku maksa nih. Ntar aku traktir makan deh.”
“Serius nih?”
“Yap!”
“Okedeh. Ayok naik!” Rasya begitu bersemangat naik ke pancuran 7, bukan karena iming-iming traktiran makan seperti yang dijanjikan oleh Vino, melainkan karna dengan naik ke pancuran 7 dan setelahnya makan, maka waktu yang didapat Rasya untuk berdua dengan Vino bisa lebih lama. Semua orang pun pasti mengharapkan hal yang sama; berlama-lama dengan orang yang dicintanya, terlebih jika ditemani dengan setumpuk rindu yang sudah lama tersimpan rapih di dalam kalbu.
******
Jam tangan Rasya menunjukkan hampir pukul 1 siang. Perut Rasya pun sudah memperlihatkan tanda-tanda bahwa sekarang sudah memasuki jam makan siang. Namun Vino masih sibuk dengan kameranya dan objek-objek di sekitar pancuran 7 tersebut. Ya, semenjak pindah dari Purwokerto, Vino jadi hobi fotografi.
“Vino, turun yuk? Laper nih.” Rasya merengek kelaparan pada Vino.
“Kamu sini dulu, kamu jadi objek fotoku dulu gih. Cuma beberapa jepretan deh. Setelah itu kita turun.”
“Huh, Vino!”
15 menit kemudian, Vino yang telah puas dengan hunting fotonya kali ini langsung mengajak Rasya turun. “Ayok turun, capek nggak? Mau aku gendong apa gimana? Haha” Vino menggoda Rasya.
“Iya capek tauuu..” Rasya menggerutu “boleh kok kalo kamu mau gendong” lanjutnya.
“Yaudah sini, buruan.”
Deg! Seakan petir menyambar jantung Rasya. Ia hampir tidak percaya Vino ternyata serius akan melakukan hal itu. Rasya terdiam membisu.
“Hei, Sya.. kamu kesurupan? Woi woi!! Jangan diem gitu..” Vino panik setengah meledek.
“Hehe, enggak. Yuk deh.” senyum Rasya pun merekah dengan indahnya.
Tercipta hening beberapa saat. Rasya diam-diam menikmati wangi parfum Vino. Wangi parfum itu masih sama seperti wangi parfum setahun yang lalu, saat mereka berdua berteduh ketika hujan waktu itu.
“Sya, kamu mau makan di mana?” tiba-tiba Vino membuyarkan lamunan Rasya.
“Eh, hm? Nggg, terserah kamu deh. Kan kamu yang mau bayarin. Hehe”
“Gimana kalo kita makan di food court Andhang – nama taman kota Purwokerto – aja? Aku pengen sekalian jalan-jalan di sana.”
“Oke bos.. tapi, buruan kek jalannya. Cacing-cacing perutku keburu demo nih.”
“Emang bisa? Coba, aku pengen liat cacing-cacing perutmu demo. Hahaha”
“Vinooooooo...” Rasya menjambak rambut pendek Vino.
Jalanan dari Baturaden menuju Andhang siang itu cukup padat, terutama di daerah kampus Unsoed. Yang seharusnya tidak memakan waktu sampai setengah jam untuk mencapai Andhang, kali ini sampai memakan waktu hampir 45 menit. “Huh, kok Purwokerto sekarang jadi rame gini, sih?” gerutu Vino. Rasya hanya diam saja sambil tertawa kecil memperhatikan tingkah Vino.
Dengan rasa lapar yang super duper dahsyat, sampailah mereka di Andhang Pangrenan.
******
“Hyaa Andhang! Lama tak jumpa.” Vino berteriak lepas seakan bertemu sosok yang sangat ia rindukan. “Sya, kamu mau makan apa? Awas kalo bilang ‘terserah kamu’ lagi, ya. Aku jitak.”
“Em... kita beli siomay aja yuk, yang banyak. Nanti kita makan di bawah ‘daun pisang’ yang gede itu sambil liat festival band itu noh. Hehe, gimana?” di Andhang Pangrenan ini memang ada tempat nongkrong yang mempunyai atap mirip dengan daun pisang yang masih hijau. Dan jika kita duduk atau nongkrong di bawah ‘daun pisang’ tersebut, kita akan berhadapan langsung dengan panggung yang biasanya menyajikan festival-festival band seperti itu.
“Oke, siap!”
Rasya dan Vino pun beranjak memesan 2 bungkus siomay. Khusus Vino, ekstra pedas. Namun khusus Rasya, hanya kecaplah yang menjadi perasa siomay itu. Rasya tidak suka pedas. Rasya pernah sampai terkena diare selama seminggu hanya karna tidak sengaja menelan satu sendok nasi goreng pedas.
Setelah pesanan mereka jadi, Rasya dan Vino pun beranjak ke bawah ‘daun pisang’ itu.
“Sya, gimana kuliah kamu sekarang? Enak?” Vino mencoba mencairkan suasana.
“Em, ya gitu deh, enak sih, tapi kadang nggak enak kalo lagi banyak tugas. Masa ya, tiap minggu harus buat laporan penelitian gitu sih. Rese banget dosen yang kasih tugas gituan deh!”
“Ya, namanya juga kuliah, pastinya banyak tugas gitu lah. Itu sih kamu mending, dikasih tugas bikin laporannya per minggu, kalo aku mah nggak pasti. Kadang 3 hari sekali, 2 hari sekali, ya gitu deh. Apalagi laporannya pake bahasa inggris semua. Repot.” Vino bercerita dengan menggebu-gebu. Namun Rasya sudah terpaku pada mata Vino yang sedang bercerita. Teduh, tenang, dan menyejukkan. “Sya.. Rasya...”
“Eh, iya? Apa tadi kamu bilang?” Rasya berkata dengan tergugup-gugup.
“Yee, kamu itu. Makanya dengerin kalo ada orang lagi cerita!” Vino kesal.
Lalu hening tercipta. Entah siapa yang memulainya. Pikiran Rasya jauh terbang melintasi awan, membayangkan apa yang terjadi jika Rasya mengungkapkan isi hatinya, sekarang. Di satu sisi, Rasya tidak mau kehilangan kesempatan lagi untuk mengungkapkan isi hatinya pada Vino, namun di sisi lain, Rasya juga tidak terima resiko kehilangan Vino jika ternyata Vino tidak menyukainya, lalu menjauhi dan menganggap Rasya bukan apa-apa lagi. Sebuah pertengkaran batin pun terjadi pada batin Rasya.
Dan setelah sekian lama Rasya memendam cintanya, akhirnya Rasya putuskan untuk mengungkapkannya sekarang. Hujan pun perlahan turun membasahi Purwokerto menjelang senja itu.
“Yah, hujan. Gimana nih, Sya?”
“Apanya yang gimana? Ya udah, kita di sini aja dulu. Daripada hujan-hujanan, kan? He” Rasya tertawa garing. “Vin, kamu inget nggak, setahun yang lalu kita berteduh di ruko-ruko timur Tamara Plaza itu? Waktu kita mau berangkat bimbel tapi nggak jadi karna hujan. Haha”
“Terus kita makan kebab di depan ruko-ruko itu, kan? Haha aku juga inget. Lucu ya kita, dulu.” Vino membayangkan kejadian satu tahun yang lalu itu.
“Em, Vin. Boleh aku ngomong jujur?”
“Ya? Apa? Tinggal ngomong aja kali, kayak sama siapa aja”
“Sebenernya, aku suka sama kamu. Aku suka sama kamu udah lama, Vin. Aku suka sama tingkahmu yang terkadang konyol dan bikin aku geli sendiri. Aku suka sama kamu yang  pinter. Aku suka semuanya tentang kamu.”
JGLEERRRR! Tiba-tiba petir menggelegar di langit-langit Purwokerto.
Vino terdiam mencoba memahami apa yang baru saja dikatakan oleh Rasya. Rasya pun terdiam.
“Em, Sya? Kamu beneran suka sama aku?” Vino mencoba meyakinkan dirinya dengan bertanya pada Rasya.
“Iya, Vin..”
“Kenapa kamu nggak ngomong dari dulu?”
“Aku takut, Vin. Aku takut kalau nantinya kamu malah ngejauhin aku kalo dulu aku bilang ini ke kamu.” Rasya menarik nafas dalam-dalam. Jelas sekali nafas Rasya terasa berat saat itu.
“Aku juga suka sama kamu, Sya.” Deg! Sekejap jantung Rasya terasa berhenti. Namun, Vino melanjutkan “tapi itu dulu. Maaf”
Rasya terdiam kaku seperti batu. Sekarang, petir yang menggelegar di langit-langit Purwokerto pun mulai menggelegar di langit-langit hati Rasya. Kenapa nggak dari dulu aku bilang hal ini ke Vino. Rasya mulai menyesali perbuatan yang telah ia lakukan dahulu kala; mencintai dalam diam, dan terlalu pengecut untuk mengakui cintanya lantaran takut kehilangan.
Cinta itu tidak seharusnya didiamkan, tapi disuarakan. Kita juga tak sepantasnya terlalu pengecut untuk mengakui bahwa kita mencintai seseorang, meskipun sahabat sendiri.
“Aku udah punya pacar di Austalia sana, anak Makasar, dia tidak lebih menarik dari kamu, Sya. Tapi dia udah ngisi relung hatiku saat ini, maaf.”
Rasya masih membisu dalam penyesalannya. Gemuruh petir dalam hati Rasya makin menjadi-jadi. Rasya berusaha menahan air matanya, namun apa daya.
“Tapi, kita masih bisa jadi temen kan, Vino?” Rasya berkata dengan nada sendu sambil mengusap area sekitar matanya yang mulai basa karna air matanya yang perlahan membanjiri mata Rasya.
Vino hanya terdiam melihat reaksi Rasya. Dan sesaat setelah itu, Vino memeluk Rasya. “Iya, kita masih jadi temen, kok.”
“Janji?”
“Janji!”
Hingga kini, pelangi yang diyakini selalu ada setelah hujan berakhir, oleh Rasya, tidak pernah lagi menampakkan wujudnya.

No comments :

Post a Comment