11 November 2012

Luka Hati [Part V]

  No comments

Pagi itu tanpa tujuan yang pasti, Vina dan Reza pergi jalan begitu saja. Ya, tanpa tujuan yang pasti.
Setelah 6 kali mengelilingi kota dengan udara yang cukup panas karena menjelang siang, akhirnya mereka memutuskan untuk mampir ke sebuah toko es krim. Toko yang pernah menjadi saksi bisu kisah asmara Vina dan Vino.
Vina adalah seorang yang sangat suka dengan es krim, apalagi es krim coklat. Reza yang tadinya tidak begitu suka dengan es krim, lama-lama menjadi suka, karna orang yang dicintanya suka dengan es krim. Ya, cinta memang bisa mengubah perasaan seseorang, yang tadinya biasa-biasa saja atau bahkan tidak suka, menjadi suka, bahkan suka sampai berlebihan.
“Kamu mau es krim apa, Za?”, tanya Vina sambil melihat-lihat daftar menu yang baru saja diberikan seorang pramusaji.
“Emm, apa aja deh. Kalo dimakan sama kamu kan jadi enak.. Hehe”
“Halah..” Vina mencubit pinggang Reza “Yaudah, yang coklat aja deh, dua, Mbak.”, lanjut Vina sambil menyerahkan daftar menu ke pramusaji.
Muncul hening beberapa saat.
“Kemarin gimana rasanya seminggu lebih diem-dieman gitu, Vin?”, Reza mencoba mencairkan suasana.
“Bete tau! Rasanya hari-hariku jadi kurang bersemangat. He..”
“Masa? Ciyus?”, Reza sok imut.
“Huum, ciyus..”, Vina ikutan sok imut.
Unyu momen.
“Permisi, Mas, Mbak. Ini es krimnya, selamat menikmati.”, kata sang pramusaji sambil melempar senyumnya.
“Makasih, Mbak..”, Reza dan Vina menjawab serentak.
Setengah jam berlalu, es krim Reza sudah habis, namun es krim Vina belum juga habis, tapi sudah mencair.
Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi, sang mentari pun perlahan menghilang di balik gelapnya awan hitam. Dari dalam toko es krim tempat Reza dan Vina menikmati es krimnya, terlihat keramaian orang yang berlarian menghindari hujan.
“Lucu ya mereka. Sama air aja takut. Hihihi”, kata Vina sambil tertawa kecil.
Reza tidak merespon. Reza terlalu fokus dengan gadget miliknya.
“Za.. kamu denger nggak sih aku ngomong?”, Vina kesal dengan mulut manyun-manyun.
“Eh, apa? Enggak hehe..”
“Huh! Lagi bbm-an sama siapa sih? Fokus banget kayaknya.”
“Oh, ini sama temen. Dia katanya lagi di sini juga, tapi aku lihat sekeliling nggak ada.”
“Cewek?”
“Cowok kok.”, Reza berbohong.
Shila yang saat itu hendak menghampiri Reza dari arah belakang, tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk menghampiri Reza. Ia mengurungkan niatnya lantaran ia melihat Reza yang sedang terlihat asyik bersama seorang perempuan yang begitu cantik parasnya. Lalu Shila mengirimkan sebuah pesan kepada Reza lewat bbm; Za, aku pulang duluan. Maaf ya nggak jadi ketemu, ada urusan mendadak nih di rumah.
Sejak saat itu, perlahan Shila mulai menjauh dari kehidupan Reza.

******
Cinta yang dipaksakan kadang terasa seperti es krim yang sudah mencair, tapi kita tetap mencoba untuk menikmatinya, dan berharap, masih ada dingin dan lembut yang terasa di es krim yang mencair itu. Mungkin itu yang sedang dirasakan oleh Reza dan Vina.
Belakangan ini, Reza dan Vina tetap mencoba untuk menikmati ‘dingin’ dan ‘lembut’ nya hubungan mereka, namun, yang terasa hanyalah ‘cair’. Mereka hanya merasa takut kalau saja es krim yang sudah mencair itu terbuang sia-sia, padahal mereka sudah tahu bahwa es krim yang sudah mencair, tetap saja akan terasa cair, tak kan ada dingin dan lembut lagi seperti sedia kala.
Sore itu, hujan turun membasahi bumi. Vina hanya bisa memandangi hujan dari balik jendela kamarnya. Yang Vina tahu, selain membawa berkah, hujan juga turut membawa kenangan yang telah lama menguap.
“Vino.. kita bakalan kayak gini terus, kan?”, mata Vina sayu-sayu memandang Vino.
“Iya, Vin. Kita bakalan kayak gini terus kok.”, Vino berkata sambil tersenyum seolah ia sudah tahu masa depannya bersama Vina.
“Janji?”
“Janji!”, kelingkling Vina dan Vino pun disatukan.
Percakapan tersebut terngiang-ngiang di kepala Vina saat itu. Vina teringat akan janji (monyet) yang dulu pernah ia ikrarkan bersama Vino, saat hujan, saat menepi di tepi jalan sekedar untuk meneduh. Vina teringat betapa Vina bisa merasakan ‘lembut’ dan ‘dingin’ nya Vino. Sebelumnya, Vina memang sama sekali belum pernah merasa ‘cair’ dengan Vino, baru kali ini Vina merasa ‘cair’, tentu saja dengan Reza.
Vina merasakan sesal yang begitu dalam. Vina baru menyadari bahwa Vina pernah menyia-nyiakan seseorang yang benar-benar bisa membuatnya merasakan seperti apa ‘lembut’ dan ‘dingin’ dalam sebuah itu.
Sementara itu, frekuensi bbm-an Reza dan Shila pun makin berkurang. Reza pun memikirkan hal apa yang sebenarnya membuat Shila menjauh darinya. Sampai-sampai Reza mencoba menemui Shila dengan cara mendatangi rumah Shila yang alamatnya dia dapatkan dari temannya yang satu sekolah dengan Shila, namun, Shila selalu saja tidak di rumah ketika Reza mencoba menemuinya.
******
Pagi itu di kelas Vina dan Vino, Ibu Fatmawati selaku penjahit bendera merah putih wali kelas Vina dan Vino, sedang memberi pengarahan kepada murid-muridnya yang satu minggu lagi akan melaksanakan ujian nasional.
“Sudah 3 tahun lamanya kalian menuntut ilmu di sekolah ini, nasib kalian akan ditentukan dalam 2 jam kali 4 hari, minggu depan. Ibu harap, kalian jaga fisik kalian, jaga kesehatan, jaga hati kalian juga. Soalnya, anak-anak seumuran kalian ini hatinya lagi rapuh-rapuhnya. Dikit-dikit galau, dikit-dikit ngambek, labil gitu deh.”, Ibu Fatmawati yang terkenal sebagai guru gaul itu memberi wejangan pada ‘anak-anak’ nya di kelas.
“Cie, pengalaman ya, Bu?”, celetuk salah satu anak di kelas itu.
“HAHAHAHAA”, tawa pun pecah dalam kelas pagi itu.
“Hush, kamu ini.. Pokoknya inget kata-kata ibu tadi. Oiya, ada lagi yang ibu hampir lupa, kegiatan-kegiatan yang bisa menguras pikiran, dalam minggu-minggu ini ya dikurangi dulu, supaya pikiran kalian bias tetap fokus ke ujian nasional. Ya sudah, itu saja yang bisa ibu sampaikan, semoga kalian lulus semua dan nilai kalian memuaskan.”
“AMIIINNNNNN~”, satu kelas mengamini bersama.
******
Sepulang sekolah, Reza menemui Vina dan mengajak Vina untuk berjalan-jalan sebentar mengelilingi sekolah sampai akhirnya berakhir di taman sekolah.
“Vina, kamu ngerasa nggak sih, kalo kita udah beda?”, tanya Reza sambil memandang jauh ke depan.
“Maksud kamu apa?”, kedua alis Vina hampir menyatu.
“Ya, kita udah beda. Kita udah nggak kayak dulu lagi. Atau, itu cuma perasaanku, ya?”
“Iya sih. Kadang aku juga ngerasa gitu.”
Reza menghela nafas. Lalu melanjutkan, “Vin, kalo kita break gimana?”
“Putus maksud kamu?”
“Iya..”
 “Tapi bentar lagi ujian. Ujianku bisa kacau kalo kita bener-bener putus. Mungkin aku bakalan susah fokus buat ujian. Tapi, kalo nggak putus, aku juga sebenernya udah jenuh sih…”, Vina terdiam dan tidak melanjutkan kalimatnya untuk beberapa saat.
“Terus?”, tanya Reza.
“Ya, ya gimana ya? Entahlah, Za. Aku bingung. Aku mau pulang dulu.”, Vina pergi meninggalkan Reza begitu saja.
“Vin.. Vin.. Vina…”
To be continue…

No comments :

Post a Comment