02 November 2012

Luka Hati [Part IV]

  No comments


Vino hanya bisa terdiam mengingat dia bukanlah siapa-siapanya Vina lagi. Vino hanya terdiam sambil memendam amarahnya pada Reza yang berkelakuan kasar pada Vina. Sampai akhirnya, Reza dan Vina pergi meninggalkan Vino sendirian di halaman belakang.
“Reza.. lepasin! Sakit tau!”, keluh Vina di depan rumah Vino.
Reza pun melepaskan genggaman kasarnya pada tangan Vina.
“Kamu itu apa-apaan sih?! Pake marah-marah segala. Nggak tau apa-apa juga!”, Vina melanjutkan keluhnya.
“Apa? Apa yang aku nggak tau? Udah jelas-jelas tadi aku ngeliat kamu pelukan gitu sama si Vino, MANTAN PACAR KAMU itu.”, Reza dengan muka merah merasa sangat kesal pada Vina dan Vino.
“Ya tapi dengerin dulu ...”
Belum sempat Vina melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ada air mengguyur mereka.
“Kalo mau berantem jangan di depan rumah gitu. Berisik. Nggak tau aku lagi main PS? Kalo mau berantem di hutan aja sono. Huh!”, ucap adik Vino, kesal, sambil memegangi selang yang masih meneteskan air.
Seminggu setelah kejadian itu, Reza dan Vina masih juga sama-sama enggan untuk bicara. Di sekolah pun, saat berpapasan, mereka seperti dua orang yang tidak saling kenal. (parah ye, marahan aja sampe seminggu. cih..)
******
Di suatu Sabtu siang Reza mencoba menghilangkan penat dengan berjalan-jalan ke sebuah toko buku. Saat melihat tumpukan-tumpukan buku baru, tiba-tiba ada yang tidak sengaja menabrak Reza dari belakang.
BRAK!
Buku yang sedang dilihat Reza pun jatuh.
“Eh, maaf, Mas. Maaf.. nggak lihat. Maaf ya..”, ucap seorang perempuan sambil menunggu Reza membalikkan badannya dan menerima permintaan maafnya.
Reza membalikkan badannya sambil berkata, “Oh, iya, nggak apa-apa, sante aj...” kalimat Reza terhenti. Reza terdiam dengan raut muka yang menunjukkan seolah-olah sedang melihat setan. Padahal bukan setan.

“Loh? Shila?”, lanjut Reza.
Shila terdiam untuk beberapa saat. Lalu berkata “Reza?” dengan raut muka yang sama dengan raut muka Reza saat itu.
“Shila.. ya ampun, nggak nyangka bakalan ketemu di sini. Kamu apa kabar?”
“Eh, iya, emm.. a..aku baik kok. Kamu apa kabar?”, Shila menjawab dan bertannya kembali dengan gugup.
“Baik juga.”
“Eh, kamu sendirian, Za?”
“Iya, Shil. Sendiri. Tapi sekarang udah nggak sendiri, ketemu kamu sih jadi ada temennya hehehe.. kamu juga sendiri?”
“Ah kamu bisa aja! Iyaa, aku sendiri juga.”
“Kamu cari buku apa, Shil?”
“Nggak cari apa-apa sih, cuma iseng aja main ke sini.”
“Oalah, sama dong kayak aku. Haha..”
“Eh, sekarang kamu sekolah di mana, Za?”
“Di SMA 1. Kamu di mana?”
“Loh? Aku di SMA 2. Kok nggak pernah liat ya? Udah lama sekolah di situ?”
“Oh ya? Aku belum lama sih sekolah di situ. Kelas 2 semester 2, aku baru pindah ke situ. Biasalah bokap, pindah-pindah mulu kerjanya. Eh, udah makan belum? Kita ngobrolnya sambil makan yuk? Nggak enak kalo di sini.”
“Emm, tapi bentar aja ya.. nggak bisa lama-lama, soalnya nanti sore aku ada latihan basket. Hehe..”
Reza dan Shila beranjak menuju ke sebuah food court yang letaknya tidak begitu jauh dengan toko buku itu.
“Kamu mau makan apa?” tanya Reza sambil menatap Shila.
“Emm, nasi goreng aja. Yang pedes!”, ucap Shila mantap.
“Ya udah. Kamu tunggu di meja itu aja ya. Aku pesenin dulu.”
Reza beranjak memesankan 2 piring nasi goreng. Satu pedas. Satu tidak. Reza termasuk orang yang tidak doyan pedas. Soalnya tiap kali makan pedas, keesokan harinya pasti diare.
Sambil menunggu makanan datang, Reza mencoba mencairkan suasana dengan basa-basi.
“Jadi, sekarang kamu jadi anak basket?”
“Hehe iya. Waktu kelas 1 aku diajakin sama temenku gitu, awalnya sih nggak begitu minat, tapi lama-lama jadi suka, gitu.”, Shila mencoba menjelaskan dan berusaha tidak terlihat canggung.
Salah satu sahabat Vina, Fani, melintasi food court dan tidak sengaja melihat Reza yang sedang bersama seorang perempuan lain. Diam-diam Fani mengintai mereka. Namun karna Reza dan Shila tidak menyadari bahwa mereka sedang diintai oleh Fani, mereka masih asyik saja dengan obrolan yang makin seru.
“Terus rencananya lulus SMA ini kamu mau ngelanjutin di mana?”
“Entahlah. Yang penting di Jogja gitu. Kamu kamu?”
“Oh, kalo aku disuruh masuk akpol sama orang tua. Doain aja ya..”
“Cie..cie.. iya, semoga sukses!”, mata Shila menjadi sipit. Senyumnya yang begitu khas membuat hati Reza menjadi bergetar seperti saat dulu kala.
“Amin! Kamu juga, semoga sukses!”, Reza tersenyum lepas saat itu. Dia seakan lupa pada masalahnya dengan Vina.
Makanan yang mereka pesan sudah habis. Tapi mereka masih betah untuk duduk berlama-lama sambil bercakap-cakap. Seperti ada buih-buih cinta yang kembali tumbuh lagi di antara mereka, sampai-sampai 2 jam berlalu tak terasa.
“Ya ampun.. aku harus latihan basket nih. Aku duluan ya, Za..”, Shila panik karna dia hampir terlambat untuk latihan.
“Eh, Shil..shil.. aku anterin ke tempat latihan ya?”
“Ah, nggak usah. Aku bisa sendiri kok. Dah...”, Shila meninggalkan Reza (dan makanan yang belum dibayar tentunya), yang sebelumnya, Shila sempat melempar senyumnya yang khas kepada Reza.
“Yaudah, ati-ati, Shil...”, kata-kata terakhir Reza kepada Shila, dan setelah kata-kata itu dia sadar, bego! Kenapa tadi nggak minta nomor hapenya ya?
******
“Vina.. lo tau nggak?”, ucap Fani dibalik telepon, panik.
“Ya nggak tau lah, bego!”, jawab Vina kesal karna Vina tengah asyik tidur sore, dibangunkan begitu saja oleh telepon Fani.
“Si Reza, Vin.. Reza...”
“Iya, Reza pacar gue? Kenapa dia? Kelindes metromini?”
“Dih. Gila lo ya? Sama pacar sendiri aja begitu.. tadi gue liat si Reza makan bareng gitu sama cewek lain, di food court”
“Hah? Yang bener aja? Mata lo salah liat kali? Mata lo kan minus gitu. Ada buktinya?”
Mampus! Gerutu Vina dalam hati. “Duh, gue lupa nggak ngejepret, tadi.”
“No picture itu hoax cyin..”
“Yaudah deh kalo lo enggak percaya. Yang penting gue udah bilang hal ini ke elo. Gue mau lanjut jalan-jalan dulu, bye..”
Tut.. tut.. tut.. suara khas nada telepon terputus terdengar di handphone Vina.
******
Minggu pagi itu, Vina memutuskan untuk diam-diam datang ke rumah Reza dan berniat menyelesaikan masalahnya dengan Reza. Vina sudah tidak tahan satu minggu lebih diam tanpa kata dengan pacarnya.
Ting tong..
“Ya.. bentar...”, terdengar suara seorang lelaki dari balik pintu.
“Hai..” ucap Vina setengah canggung.
“Eh, kamu Vin. Mau ngapain pagi-pagi gini? Aku aja baru bangun..”, Reza bertanya sambil mengucek matanya dan sesekali menguap. (asli, gue – penulis – banget)
“Aku mau minta maaf sama kamu soal minggu lalu itu. Aku ngaku aku yang salah, aku nggak sengaja meluk Vino waktu itu karena saking senengnya karna tugas aku sama dia udah selese. Terus kamu dateng gitu aja dan marah-marah..”
“Oh, jadi nggak sengaja? Tapi kamu menikmatinya, kan?”, Reza memang sedikit keras kepala. Sedikit di bawah Vina.
“Za.. please, Za.. udah deh. Kamu jangan kaya anak kecil gitu. Aku kan udah minta maaf, sekarang kita baikan ya? Ya?”, rayu Vina dengan muka dimelas-melaskan sembari menunjukan senyumnya.
“Hem.. oke deh. Aku maafin.”
“Hihi, makasih ya.. sekarang kamu mandi gih, terus kita jalan. Aku kangen jalan sama kamu..”, ucap Vina manja. Manjanya Vina memang tiada duanya, siapa pun yang dirayu Vina dengan cara manjanya, dia pasti menurut.
“Oke..oke. Kamu masuk dulu gih, mau minum apa? Nanti aku suruh pembantuku bikinin minuman.”
“Ah, nggak usah. Udah buruan mandi gih, bau taauuuuu..”, Vina meledek Reza sambil menutup hidungnya seolah-olah mencium bau sampah di dekatnya.
“Hhh.. iya..iya. Tungguin ya”, Reza mengedipkan mata, genit. (cowok genit, bo..)

To be continue…

No comments :

Post a Comment