27 November 2012

Analogi Cinta

  No comments


Kadang kala kita butuh analogi untuk sesuatu yang sulit dipahami, terutama cinta. Kalo kamu tanya ‘apasih cinta itu?’ ke orang-orang, jawabannya pasti beda-beda. Dan saya yakin, kalau IQ kamu tiarap, kamu nggak akan menemukan kesimpulan dari jawaban orang-orang yang kamu tanya ‘apasih cinta itu?’.
     Nah, makanya, di sini saya akan mencoba menganalogikan ‘Cinta Itu Gigi’. Beh, keren nggak? Udah yuk simak aja..


Cinta itu kayak gigi.
Kalo kita kehilangan gigi, rasanya hampa, ompong. Sama kayak hati kita kalo kehilangan orang yang kita cintai.

Cinta itu kayak gigi.
Kalo nggak ada gigi, kita susah hidup. Sama kayak kalo nggak ada cinta, susah hidup.

Cinta itu kayak gigi.
Perlu dibawa ke dokter setiap 6 bulan sekali, supaya tetap sehat.

Cinta itu kayak gigi.
Sama-sama bisa rapuh kalo enggak dirawat dengan benar.

Cinta itu kayak gigi.
Banyak gigi yang bau, begitu pula cinta. Busuk.

23 November 2012

Menjadi LDR Hebat

  13 comments


Hahaha geli ya? Iya geli. Saya yang nulis judulnya juga geli sendiri. “LDR Hebat”. Jangan-jangan karna saking hebatnya, nanti jadi terbentuk kumpulan superhero yang berlatar belakang LDR yang sukses, ya nanti jadinya mirip-mirip sama Juctice League gitu lah, namanya, em, LDR League. Hahaha..
LDR

Jadi, nanti para superhero yang tergabung dalam LDR League ini akan melindungi serta mengayomi para pejuang jarak di manapun, kapanpun, tanpa tanda jasa (tapi tanda terima/ cek).
Mereka akan membasi para jomblo yang suka membully para kaum pejuang jarak. Sebenarnya jomblo yang suka membully itu sirik aja sama kaum pejuang jarak, soalnya, jomblo mau kangen juga sama siapa? Hapenya sepi mulu, nggak ada yang sms sih. Lama-lama juga kurus kering karna nggak ada yang ngingetin makan. (--,)
Para superhero yang tergabung dalam LDR League ini juga nantinya akan membasmi para perusak hubungan kaum pejuang jarak. Mereka akan membasi siapapun yang berani-beraninya mencoba merusak hubungan kaum pejuang jarak. Entah Mbak-mbak, Mas-mas, Om-om, Tante-tante, Kakek, Nenek, kalau berani-beraninya mencoba merusak, akan dibasmi tanpa kecuali. Yeahaha!
Dan satu lagi, pada superhero ini juga bertugas menyampaikan salam serta rindu jutaan (eh, emang sampe jutaan yang LDR?) kaum pejuang jarak. Tiap malam minggu, para superhero ini akan menyampaikan rindu-rindu yang belum sampai pada tempatnya karena pending. Ya, malam minggu kan biasanya pending. Jadi, superhero-superhero ini sangatlah mulia di mata para pejuang jarak. *sembah-sembah*

Hahaha, malah jadi ngaco gini. Poiuyt.
Oke, serius.

Ehm.. *naik mimbar*
Terima kasih kepada kalian semua–pembaca blog saya– yang sudi untuk membaca postingan ini.
Terima kasih kepada pacar saya yang bersedia menjalani hubungan dengan saya selama ini walau terpisah dengan jarak yang jauh. #halah #abaikanParagrafIni
Terima kasih kepada orang-orang yang sering mem-bully para pejuang jarak, berkat kalian, saya mendapatkan ide untuk menulis postingan ini. Sembunyilah kalian sebelum dibasmi oleh LDR League! ;p
Dan untuk kalian para pejuang jarak, postingan ini saya persembahkan.
Heh?! Tepuk tangan kek? :/
******
Memperjuangkan cinta di antara jarak ratusan bahkan ribuan bahkan puluhan ribu (halah, lebay) kilometer memang bukan hal yang mudah. Tapi, walau bukan hal yang mudah, bukan berarti hal itu tidak bisa dilakukan/ diwujudkan. Bisa sih, tapi susah. Eh, kebalik. Susah sih, tapi pasti bisa. Maksudnya, bisa putus kapan aja, bisa selingkuh sama siapa saja, dan bisa diselingkuhin pula, gitu. *digampar*

13 November 2012

Luka Hati [Part VI]

  3 comments


1 minggu pun berlalu. Waktunya untuk ujian pun datang. Namun, Reza dan Vina kembali sama-sama tidak saling menghubungi satu sama lain. Hal ini tentu saja membuat perasaan Vina tidak tenang saat menghadapi ujian.
Memang iya, Vina melihat raga Reza di sekolah, namun, sikap Reza yang begitu dingin membuat Vina tidak merasa ada Reza di situ. Seperti melihat mayat yang berjalan saja.
4 hari berlalu begitu saja. Ujian pun berakhir. Semua anak-anak pun merasa begitu lega, begitu bebas, begitu senang. Namun tidak bagi Vina, Vina masih saja memikirkan tentang hubungannya dengan Reza.
Ego Vina yang begitu tinggi ternyata mampu mengalahkan perasaannya. Karna ego lah, Vina tidak pernah menghubungi Reza terlebih dahulu, padahal Vina tahu dia butuh kejelasan dari Reza. Vina termasuk perempuan yang selalu menunggu, menunggu, dan menunggu. Maunya, Reza lah yang menghubungi Vina terlebih dahulu untuk membicarakan hubungan mereka.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Tak terasa hampir sebulan, Vina dan Reza masih sama-sama tidak saling menghubungi. Sekarang, status hubungan mereka menjadi gantung. Pacaran? Iya, tapi tidak pernah berhubungan. Enggak pacaran? Enggak, masalahnya mereka belum putus.
Kebetulan minggu depan ada acara prom night di sekolah Reza dan Vina. Sekolah mereka memang rutin menggelar acara tersebut bagi anak-anak kelas 3 yang baru saja melaksanakan ujian setiap tahunnya. Satu anak dari dalam sekolah, bebas mengajak satu anak dari luar sekolah. Jadi, tidak menutup kemungkinan bagi yang mempunyai pacar di luar sekolah untuk membawa pacarnya ke acara prom night itu.
Acara tersebut juga mengharuskan setiap anak memiliki pasangan pada malam itu. Semuanya wajib memiliki pasangan, tapi tidak harus berstatus pacaran. Cuma wajib berpasangan malam itu. Mau bawa adik/ kakak/ saudara/ gebetan/ mantan/ siapa saja buat dijadikan pasangan pada acara prom night itu, bebas.
Vina yang masih menomor satu kan egonya, enggan memohon pada Reza untuk menjadi pasangannya pada acara prom night. Vina lebih memilih Vino, mantan kekasihnya, untuk menjadi pasangannya pada acara prom night.
“Vino.. minggu depan kamu dateng ke prom, kan? Sama siapa?”, tanya Vina melalui sms.
“Kebetulan, belum ada. Nggak tau mau sama siapa. Hehe.. kenapa?”
“Em, sama aku aja yuk? Mau, kan?”
“Loh, kamu nggak sama Reza?”
“Reza? Reza ya? Ah, udah lah, aku maunya sama kamu. Gimana? Mau nggak?”
“Mau sih. Tapi, kalo nanti jadi terjadi masalah sama Reza, bukan salahku dan bukan tanggung jawabku loh ya?”
“Oke bos! :D”
Vina dan Vino sepakat untuk menghadiri prom night secara berpasangan.

11 November 2012

Luka Hati [Part V]

  No comments

Pagi itu tanpa tujuan yang pasti, Vina dan Reza pergi jalan begitu saja. Ya, tanpa tujuan yang pasti.
Setelah 6 kali mengelilingi kota dengan udara yang cukup panas karena menjelang siang, akhirnya mereka memutuskan untuk mampir ke sebuah toko es krim. Toko yang pernah menjadi saksi bisu kisah asmara Vina dan Vino.
Vina adalah seorang yang sangat suka dengan es krim, apalagi es krim coklat. Reza yang tadinya tidak begitu suka dengan es krim, lama-lama menjadi suka, karna orang yang dicintanya suka dengan es krim. Ya, cinta memang bisa mengubah perasaan seseorang, yang tadinya biasa-biasa saja atau bahkan tidak suka, menjadi suka, bahkan suka sampai berlebihan.
“Kamu mau es krim apa, Za?”, tanya Vina sambil melihat-lihat daftar menu yang baru saja diberikan seorang pramusaji.
“Emm, apa aja deh. Kalo dimakan sama kamu kan jadi enak.. Hehe”
“Halah..” Vina mencubit pinggang Reza “Yaudah, yang coklat aja deh, dua, Mbak.”, lanjut Vina sambil menyerahkan daftar menu ke pramusaji.
Muncul hening beberapa saat.
“Kemarin gimana rasanya seminggu lebih diem-dieman gitu, Vin?”, Reza mencoba mencairkan suasana.
“Bete tau! Rasanya hari-hariku jadi kurang bersemangat. He..”
“Masa? Ciyus?”, Reza sok imut.
“Huum, ciyus..”, Vina ikutan sok imut.
Unyu momen.
“Permisi, Mas, Mbak. Ini es krimnya, selamat menikmati.”, kata sang pramusaji sambil melempar senyumnya.
“Makasih, Mbak..”, Reza dan Vina menjawab serentak.
Setengah jam berlalu, es krim Reza sudah habis, namun es krim Vina belum juga habis, tapi sudah mencair.
Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi, sang mentari pun perlahan menghilang di balik gelapnya awan hitam. Dari dalam toko es krim tempat Reza dan Vina menikmati es krimnya, terlihat keramaian orang yang berlarian menghindari hujan.
“Lucu ya mereka. Sama air aja takut. Hihihi”, kata Vina sambil tertawa kecil.
Reza tidak merespon. Reza terlalu fokus dengan gadget miliknya.
“Za.. kamu denger nggak sih aku ngomong?”, Vina kesal dengan mulut manyun-manyun.
“Eh, apa? Enggak hehe..”
“Huh! Lagi bbm-an sama siapa sih? Fokus banget kayaknya.”
“Oh, ini sama temen. Dia katanya lagi di sini juga, tapi aku lihat sekeliling nggak ada.”
“Cewek?”
“Cowok kok.”, Reza berbohong.
Shila yang saat itu hendak menghampiri Reza dari arah belakang, tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk menghampiri Reza. Ia mengurungkan niatnya lantaran ia melihat Reza yang sedang terlihat asyik bersama seorang perempuan yang begitu cantik parasnya. Lalu Shila mengirimkan sebuah pesan kepada Reza lewat bbm; Za, aku pulang duluan. Maaf ya nggak jadi ketemu, ada urusan mendadak nih di rumah.
Sejak saat itu, perlahan Shila mulai menjauh dari kehidupan Reza.

02 November 2012

Luka Hati [Part IV]

  No comments


Vino hanya bisa terdiam mengingat dia bukanlah siapa-siapanya Vina lagi. Vino hanya terdiam sambil memendam amarahnya pada Reza yang berkelakuan kasar pada Vina. Sampai akhirnya, Reza dan Vina pergi meninggalkan Vino sendirian di halaman belakang.
“Reza.. lepasin! Sakit tau!”, keluh Vina di depan rumah Vino.
Reza pun melepaskan genggaman kasarnya pada tangan Vina.
“Kamu itu apa-apaan sih?! Pake marah-marah segala. Nggak tau apa-apa juga!”, Vina melanjutkan keluhnya.
“Apa? Apa yang aku nggak tau? Udah jelas-jelas tadi aku ngeliat kamu pelukan gitu sama si Vino, MANTAN PACAR KAMU itu.”, Reza dengan muka merah merasa sangat kesal pada Vina dan Vino.
“Ya tapi dengerin dulu ...”
Belum sempat Vina melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ada air mengguyur mereka.
“Kalo mau berantem jangan di depan rumah gitu. Berisik. Nggak tau aku lagi main PS? Kalo mau berantem di hutan aja sono. Huh!”, ucap adik Vino, kesal, sambil memegangi selang yang masih meneteskan air.
Seminggu setelah kejadian itu, Reza dan Vina masih juga sama-sama enggan untuk bicara. Di sekolah pun, saat berpapasan, mereka seperti dua orang yang tidak saling kenal. (parah ye, marahan aja sampe seminggu. cih..)
******
Di suatu Sabtu siang Reza mencoba menghilangkan penat dengan berjalan-jalan ke sebuah toko buku. Saat melihat tumpukan-tumpukan buku baru, tiba-tiba ada yang tidak sengaja menabrak Reza dari belakang.
BRAK!
Buku yang sedang dilihat Reza pun jatuh.
“Eh, maaf, Mas. Maaf.. nggak lihat. Maaf ya..”, ucap seorang perempuan sambil menunggu Reza membalikkan badannya dan menerima permintaan maafnya.
Reza membalikkan badannya sambil berkata, “Oh, iya, nggak apa-apa, sante aj...” kalimat Reza terhenti. Reza terdiam dengan raut muka yang menunjukkan seolah-olah sedang melihat setan. Padahal bukan setan.