30 October 2012

Luka Hati [Part III]

  No comments


Reza masih terdiam di ruang tengah. Reza masih shock dengan apa yang baru saja dia lihat.
“Za, lo kenal Shila?”, tanya Vino terheran.
“…”
“ZA! WOYYY!!”, Vino menepuk pundak Reza.
“Eh, emm, i..iy..iya, Vin. Dulu kita satu SMP.”, jawab Reza tergagap.
“Oh.. terus kalian ada hubungan apa gitu? Temen? Sahabat? Atau...”
“Psst..! Udeh, lu kerjain aja tugasnya sono.”
“Yee…”
Itu tadi beneran Shila kan ya? Gue nggak mungkin salah liat, kan? Gue nggak mungkin mimpi, kan? Reza bergumam.
******
“Vina.. Maaf agak lama ya”
“Hmm..”
“Gimana? Udah kamu analisa?”
“Belum, aku gatau gimana cara nganalisanya, terus setengah jam lagi aku ada les kimia nih, Vin. Aku tinggal dulu ya, kita lanjutin besok, atau kapan-kapan deh.”
“Ooo, oke.”
Memang hari itu Vina ada jadwal les, namun lantaran Vina terlanjur bete, akhirnya Vina mengajak Reza untuk membolos les dan pergi ke taman.
Sore itu di taman, Vina berkeinginan membunuh rasa betenya bersama Reza.
Memang sedikit tidak wajar sore-sore ke taman seperti itu, apalagi menjelang malam minggu.
Yang ada di taman sore itu hanyalah Mas-mas penjaga stand-stand mainan anak-anak (sepeda, istana yang terbuat dari plastic yang berisi angin, kolam kecil berisi ikan-ikanan yang terbuat dari plastic, dsb), beberapa keluarga kecil (ayah, ibu, dan satu anak kecil yang masih sangat unyu), tukang sapu yang sibuk membuat taman menjadi bersih dan indah, dan beberapa pasang kekasih yang mungkin sama saja dengan Vina dan Reza, kurang kerjaan.
Sepi.
Iya, sepi.

Reza yang sebelumnya begitu aktif untuk membuka obrolan dengan Vina, kali ini relatif diam. Vina yang mulai sadar akan tingkah Reza yang tidak biasa ini, malah makin merasa bete.
“Za! Kamu kenapa sih?!”, tanya Vina kesal.
“Hah? Kenapa sih? Aku nggak kenapa-kenapa kok, sayang..”
“Nggak mungkin! Nggak biasanya kamu diem-dieman gini. Ada yang kamu sembunyiin ya?!”, Vina mulai mecurigai serta menuduh Reza, tanpa bukti. (hadeh.. dasar perempuan)
“Apa sih? Aku nggak nyembunyiin apa-apa kok? Nih cek aja saku-saku celana ku, saku jaket, kalo perlu saku hatiku cek juga nih. Nggak bakal ada yang aku sembunyiin kok, soalnya saku celana penuh, saku jaket ada hapenya, saku hati isinya full sama kamu.. hehehe”, Reza tersenyum setengah ikhlas.
“Ah, dasar kamu!”, Vina tertawa kesal.
“Eh, kamu laper nggak? Kita makan bakso, yuk?”
“Iya laper… ayuk..ayukk. ^-^”
******
Detik berganti detik. Menit berganti menit. Jam berganti jam. Hari berganti hari. Tak ada yang bisa menghentikan jalannya waktu.
Kini tinggal tersisa 3 hari untuk Vina dan Vino untuk menyelesaikan tugas mereka yang terbengkalai.
 “Vina, kamu ke rumahku sekarang. Kita selesein tugas kita. Tinggal 3 hari lagi nih”, sebuah pesan masuk ke inbox handphone Vina.
Hhh! Males bener. “Iya iya, nanti. Tunggu 15 menit lagi”, Vina membalas sms Vino sambil bergumam.
Vino sudah mencoba untuk selalu mengajak Vina supaya segera menyelesaikan tugas mereka, namun Vina selalu saja punya alasan untuk menunda pekerjaan. Contohnya seperti alasan ada les, alasan jaga rumah, alasan menemani ibunya belanja, dan sebagainya.
“Mas Vinoooo~ ada Mbak Vina tuh. Uhuk! Hihihi..”, teriak adik Vino seraya menggoda kakaknya.
“Langsung suruh ke halaman belakang aja, dek.”
“Mbak Vina, katanya suruh langsung ke belakang aja tuh.”
“Oh iya. Makasih ya..”, ucap Vina dengan senyum cerianya yang khas sambil mencubit kecil pipi adik Vino.
Vina yang mengenakan kaos putih lengan pendek dan celana blue jeans beranjak ke halaman belakang.
“Vino… hai! Maaf ya agak lama, tadi ada gangguan di jalan. Ban kempes. Hehe”, ucap Vina sembari melempar senyum cerianya ke Vino.
“Oh. Terus kamu mau ngapain ke sini? Tadi aku lupa mau bilang kalo tanaman kita udah terlanjur layu. Tuh liat.”, kata Vino dengan ketusnya.
“Hah?”, Vina menghampiri tanaman kacang tanah yang hendak mereka analisa. “Terus gimana dong? Emangnya udah nggak bisa dianalisa ya kalo udah begitu?”, tanya Vina dengan panik.
“Ya enggak lah. Mana bisa tanaman layu gitu dianalisa? Kamunya sih nunda-nunda mulu!”
“Tapi kan belakangan ini aku emang sibuk. Kamunya juga, kenapa nggak dijaga itu tanaman? Kenapa nggak kamu analisa dulu gitu, kamu kan bisa analisa tanaman itu tanpa aku, kan?”, Vina mulai kesal.
Vina memang orang yang keras kepala. Susah mengalah, dan tak mau salah.
“Jadi sekarang kamu nyalahin aku? Emang waktu ku cuma buat ngejaga tanaman doang? Iya, aku emang bisa kok ngerjain tugas ini sendiri, tapi kan ini tugas bersama. Kalo aku ngerjain ini sendiri, mau nama kamu nggak aku tulis di laporan nantinya?”, Vino membela diri.
“Huh. Dari dulu kamu emang nggak pernah berubah!”
“Nggak usah bawa-bawa masa lalu deh. Yang perlu dipikir sekarang, gimana caranya kita nyelesein tugas ini.”
Vina terdiam bercampur kesal. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
“Yaudah aku ngaku deh aku salah. Aku minta maaf, tapi sekarang nggak tau harus gimana nyelesein tugas kita ini”, Vina meminta maaf dengan setengah ikhlas dan muka cemberut.
“Aku nggak nyalahin kamu kok. Sebenernya nggak ada yang salah di sini. Aku cuma pengen ngasih pelajaran aja ke kamu aja kalo semua yang ada di dunia ini itu nggak bisa dianggap sepele. Nggak bisa diperlakukan semena-mena, semau kamu. Dan supaya kamu sadar juga atas apa yang udah jadi kewajiban mu sama tanggung jawabmu. Dan inget, waktu itu nggak bisa terulang. Sekalinya terlewati ya udah, kelewat gitu aja.”
Vina terdiam. Hatinya makin berkecamuk. Ini cowok satu emang rese banget!
“Sebenernya aku masih ada satu kacang tanah di gudang. Kamu ambil sana, terus kita analisa, kita selesein sekarang juga.”
“Hfft. Iya iya, den Vino…”
******
Demikian hasil diskusi kami. Kami sadar masih banyak kekurangan pada hasil diskusi ini, maka dari itu kami minta maaf pada teman-teman semua dan Pak Narto selaku guru pengampu mata pelajaran biologi. Sekian.
“YEE KELARRR!!”, teriak Vina dengan girangnya sambil tanpa sadar memeluk Vino.
Vino terdiam.
Reza datang tanpa diduga.
“Eh, maaf..”, ucap Vina pada Vino dengan nada lirih dan belum menyadari kedatangan Reza.
“Vina…”, Reza tercengang.
Vina dan Vino kaget.
“Eh, Za.. tunggu dulu, Za. Ini nggak kaya yang lo pikirin kok.”, Vino mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Emang lo tau apa tentang pikiran gue? Macem dukun aja bisa baca pikiran orang. Ayok kita pulang, Vin!”, Reza menarik tangan Vina dengan penuh amarah.
“Za! Nggak usah kasar gitu deh kalo sama cewek!”
“Punya hak apa sih lo? Berisik! Lo tuh bukan apa-apanya Vina, jadi diem aja.”

To be continue…

No comments :

Post a Comment