20 October 2012

Luka Hati [Part II]

  No comments


            “Eh, woy. Siapa yang belum dapet partner? Masa gue sendirian?”, kata Vino sambil sedikit teriak pada anak-anak kelas.
            “Tuh si Vina, Vin. Dia belum dapet partner tuh”, Fandi – sang ketua kelas – memberitahu Vino.
            “Hah? Ciyus? Eh, serius?!??”, Vino setengah hidup mendengar ucapan Fandi.
            Masa gue harus partner-an sama Vina sih. Ogah bet. Gerutu Vino dalam hati.
            “Eh, Dan. Lo partner-an sama siapa? Lo sama gue aja ya? Ya? Lo baik deh..”
            “Gue sama si Yanto, Vin. Ya kalo Yanto mau tukeran gitu sih, oke aja”, ucap Dani sambil mendzalimi hidungnya.
            “YANTO… WOY YANTO… SINI…”
            “Apaan?”
            “Lo tukeran partner sama gue ya? Jadi, gue sama Dani, lo sama Vina. Ya?”, Vino memelas.
            “Hehe.. ogah. Gue nggak bisa kalo deket-deket sama cewek kelamaan, takut mimisan gue.”
            “Yaudah, lo ada deh, Dan, yang sama Vina. Ya?”
            “Nggak deh. Kalo kelamaan deket-deket cewek gue takut khilaf, Vin. Hehe..”, ucap Dani sambil cengegesan.
            “Hfft. Yaudah deh.” Vino menghela nafas.
            ******
            “Jadi, gimana? Kita kebagian materi yang apa?”, tanya Vino dengan nada berat dan sedikit judes.
            “Kita kebagian tumbuhan dikotil. Jadi, kita disuruh cari tahu segala sesuatu tentang tumbuhan dikotil terus nanti dipresentasiin ke anak-anak kelas. Gitu.”, jawab Vina dengan nada lirih.
            “Deadline-nya kapan?”
            “Masih sebulan lagi sih.”
            “Oh..”, jawab Vino singkat.

            Mulai saat itu, Vina dan Vino mulai sering menghabiskan waktu bersama selama sebulan untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran biologi mereka. Namun, kadang kala mereka tidak hanya berdua, ada Reza yang menemani Vina saat mengerjakan tugasnya bersama Vino.
            “Vin, gue di sini cuma mau nemenin Vina kok, nggak bakalan ngeganggu kerja kalian.”, ucap Reza sambil merayu Vino.
            “Emm, iye..”
            “Jadi gimana, Vin? Udah dapet tumbuhan dikotil yang mau kita analisa?”, tanya Vina sambil menyeruput es duren yang dibawakan oleh kekasihnya, Reza.
            “Udah. Tuh gue bawa sampelnya, tapi masih di belakang.”, jawab Vino seraya meminum air putih.
            “Yaudah yuk kita analisa? As soon as posible.” Vina mengajak Vino sambil tersenyum manja. Senyum yang masih sama seperti saat mereka bersama, dulu.
            “Halah kamu ikut beb, sok-sok bahasa inggrisan segala. Haha..”, ledek Reza sambil mencubit pipis Vina, di depan Vino.
Err… Vino geram dalam hati.
            Vina dan Vino beranjak ke halaman belakang untuk menganalisa sampel yang sudah disiapkan oleh Vino. Sedangkan Reza, menunggu di ruang tengah sambil menonton TV dan sesekali memainkan gadget-nya.
Vino yang saat itu masih kesal dengan tingkah Vina yang dianggap mempermainkan Vino, mengerjakan tugasnya dengan setengah hati.
“Vino.. mana sih tumbuhannya?”, tanya Vina sambil matanya menyusuri halaman belakang.
“Itu tuh, kacang tanah.”
“Oalah… kirain tumbuhan yang besar gitu. Haha..” Vina tertawa kecil sambil menepuk bagian belakang pundak Vino.
Dulu, Vina sering melakukan hal itu pada Vino ketika ia tertawa karna lelucon-lelucon ringan yang sering Vino ungkapkan. Tapi bagi Vino, tepukan Vina masih terasa sama.
Mulut Vino memang sudah tidak mencintai Vina, tapi hati kecilnya masih. Vino masih saja sering membayangkan saat-saat dimana mereka bersama melepas canda tawa, bertengkar, bergurau, dan menghabiskan waktu bersama di kala malam minggu tiba.
“Vino.. ini yang dianalisa apanya sih? Sini dong bantu aku..”, rayu Vina sambil mulutnya dimanyun-manyunkan.
Vina memang tidak suka biologi. Bagi dia, biologi itu ribet. Harus hafal ini itu lah, nama latin lah, ada ngitungnya juga lah, pokoknya ribet deh. Tapi tidak bagi Vino. Vino yang bercita-cita jadi dokter sejak kelas 1 SMA itu sangat menyukai biologi. Makanya, wajar kalau dia selalu mendapat nilai baik di mata pelajaran yang satu ini.
Ting tong…
“Eh, bentar ya, bentar. Kayaknya ada tamu deh. Bentar..”, Vino berlalu meninggalkan Vina di halaman belakang.
******
“Hai Vinoooo…. Lagi ngapain? Aku bawa makanan nih buat kamu. Hihi.. ^^”, terdengar suara perempuan yang begitu ceria yang tidak lain adalah Shila – mantan pacar Reza –.
Vino dan Shila memang tidak satu sekolah. Namun mereka saling kenal, bahkan bisa dibilang akrab karna mereka satu club basket di kota mereka. Tiap Kamis dan Sabtu sore club basket itu selalu mengadakan latihan rutin, jadi wajar kalau Vino dan Shila sudah begitu akrab.
“Eh, kamu, Shil. Lagi ngerjain tugas nih. Oh, makasih loh, kebetulan aku belum makan.”, Vino melempar senyum kecil ke Shila.
“Ohh, ngerjain tugas sama siapa? Aku ngeganggu ya?”
“Ah, enggak kok. Itu sama temenku. Yuk masuk dulu.”, Vino mempersilahkan Shila masuk.
******
“Sini masuk aja, Shil. Nggak usah malu-malu. Kayak sama siapa aja deh. Oya, kenalin, itu Reza..”
Shila terdiam beberapa saat, kemudian berkata lirih, “Reza…”
Reza dan Shila pernah berpacaran waktu smp. Mereka sempat berpacaran selama sebulan, namun mereka terpaksa berpisah lantaran Reza yang harus ikut orang tuanya untuk pindah ke luar kota.
Semenjak saat itu, Shila dan Reza tidak pernah menghubungi lagi satu sama lain. Hubungan mereka jadi ngambang. Dibilang putus, enggak. Dibilang masih pacaran, juga enggak. Tetapi, dalam hati mereka berdua, sesungguhnya masih saling suka dan saling mengasihi satu sama lain.
“Shila..”, Reza pun terkejut akan kehadiran perempuan yang pernah mengisi relung hatinya, dulu.
Tiba-tiba jantung Shila berdegup begitu cepat saat Reza memanggil namanya. Ada rasa yang dulu pernah ada dan menghilang begitu saja, kini muncul lagi tanpa diduga. Shila masih tidak percaya bahwa Reza yang sedang duduk di depan dia itu adalah Reza yang dulu pernah ia cinta.
“Loh, kalian saling kenal?”, tanya Vino dengan sedikit heran.
Seketika suasana hening. Shila dan Reza masih saling memandang. Masih saling berusaha untuk percaya bahwa yang mereka lihat satu sama lain adalah cinta pertamanya yang dulu menghilang.
“Helloooo~”, Vino melambaikan tangannya pada pandangan Shila.
“Emm, Vino, aku pulang dulu ya. Mau jaga adek di rumah, mamah mau ada acara sama temen-temennya, papah juga belum pulang. Dah..”, Shila bergegas meninggalkan rumah Vino begitu saja.

To be continue…

No comments :

Post a Comment