15 October 2012

Luka Hati [Part I]

  2 comments


“Vin, kayaknya kita break dulu ya? Aku pengen konsen sama sekolahku. Maaf.. :(“, ucap Vina – pacar Vino – dengan nada yang berat dan sedikit terisak.
“Kamu serius? Bercanda lagi ya?~”, kata Vino seraya menggelitik kecil perut Vina.
Vino dan Vina memang sering membuat lelucon seperti itu, namun kali ini Vina memang sedang bersungguh-sungguh. Dia tidak sedang bergurau.
“Aku serius, Vin. Aku lagi nggak bercandan kayak biasanya. Maaf.. :(“
“…”, Vino terdiam. Dia memandangi perempuan 17 tahun yang terlihat lemas dan melas di depan dia.
Vino dan Vina sudah berpacaran sejak 2 tahun 6 bulan 3 minggu 5 hari yang lalu. Saat masa orientasi siswa baru di sekolah putih abu-abu, secara tidak sengaja mereka dipertemukan karna melakukan kesalahan yang sama, yaitu tidak membawa kantong plastik ramah lingkungan.
Vina yang saat itu masih mengenakan seragam putih biru, masih terlihat begitu unyu. Dengan rambut hitam sebahu, mata bening-bulat dan kulit putih bersih, terlihat begitu menarik bagi Vino. Tanpa pikir panjang, seminggu kemudian Vino mengungkapkan perasaannya kepada Vina. Mereka jadian.
Hari demi hari mereka lewati bersama dan dengan penuh tawa. Sampai akhirnya masa-masa kelas 10 berakhir. Memasuki awal kelas 11, tanpa diduga Vino dan Vina ternyata sama-sama satu kelas, XI IPA 6. Bukan main bahagianya mereka ketika mereka mengetahui bahwa mereka satu kelas. Hanya saja mereka belum sadar kalau bahagia yang berlebihan itu merupakan awal dari petaka berkepanjangan.
“Vin, jawab, Vin.. Maafin aku ya, aku bener-bener terpaksa ngelakuin ini. Soalnya orang tuaku udah maksa aku buat ikutan bimbel sana bimble sini, katanya buat persiapan ujian. Aku takut kalau nanti waktu aku sibuk bimbel sama belajar, aku nggak ada waktu buat kamu. Jadi, aku pikir lebih baik kita break dulu.”, ucap Vina dengan isakannya yang makin jelas.
“Kalo cuma kaya gitu, aku bisa paham kok sama keadaan kamu. Tapi please.. kita nggak usah pake break segala. Hidupku bisa kacau kalau tanpa kamu, Vina..”
“Enggak! Aku udah pernah ngalamin hal ini, dulu. Dan itu gagal, Vin. Jadi, mending kita break dulu. Nanti habis ujian, kita bisa kaya gini lagi kok. Maaf ya, Vin..” ucap Vina sembari mengecup pipi Vino untuk yang ke-73 kalinya, lalu pergi dengan setengah berlari meninggalkan Vino.
“VINA.. VIN… TUNGGU…” teriak Vino dan tiba-tiba..
BYUURRRRR!!!

“Bangun, Mas.. Bangun!! Disuruh bangun tuh sama Ibu, jangan manggil-manggil Mbak Vina melulu, udah putus juga. Hahaha” adik Vino terkekeh sambil berlari membawa gayung kecil.
“Kampret! Ternyata mimpi. Masih aja aku mimpiin si Vina, padahal udah dua bulan lalu kejadian itu.”
Senin pagi di awal Februari itu gerimis membasahi bumi. Seperti biasanya, Vino bangun kesiangan lantaran tak ada yang membangunkannya.
Biasanya, Vina yang selalu membangunkan Vino setiap pagi. Entah dengan sms, bbm, telpon maupun mention di Twitter. Namun semenjak berakhirnya kisah indah di antara mereka, Vino kembali lagi seperti dulu sebelum bertemu Vina, hobby kesiangan. Bangun jam setengah 7 pagi, padahal dia tahu dan sadar bahwa waktu yang harus ditempuh untuk sampai sekolahnya minimal setengah jam.
Vino bergegas mengganti pakaian tidurnya dengan seragam putih abu-abu nya yang sudah termakan usia. Oya, tanpa mandi. Hanya mencuci muka, beberapa kali mengoleskan deodoran ke keteknya dan beberapa semprotan parfum ke tubuhnya.
Pagi itu, entah kenapa perasaan Vino sedang tidak karuan. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Entah apa. Sampai-sampai Vino hampir menabrak tukang becak yang sedang mengangkutt sayuran di depan pasar.
“LIAT-LIAT MAS KALO NAIK MOTOR. BOCAH!”, elu si tukang becak.
Vino tak mempedulikan si tukang becak, masih dengan perasaan yang tidak karuan, ia melanjutkan perjalanannya menuju sekolahnya. Untung saja semalam hujan, jadi, lapangan yang biasa dipakai untuk upacara becek dan tak ada upacara pagi itu. Beruntunglah Vino.
Sampai parkiran, dia melihat sesuatu yang membuat iritasi pada matanya. Vina. Vina pagi itu berangkat bersama seorang laki-laki yang sangat Vino kenal. Reza namanya. Reza ini anak futsal yang begitu eksis di sekolah Vino.
“Oh.. oalah..” ucap Vino dalam hati.
Vino berjalan dengan muka sengak dan langkah yang agak berat melewati mereka berdua.
“Pagi, Vino..” sapa Vina.
“Hmm”
Hari itu benar-benar hari yang amat menjengkelkan bagi Vino. Selain pagi-pagi sudah melihat mantan pacarnya jalan sama laki-laki lain, ternyata ada ulangan Kimia mendadak di kelasnya, dan Vino sama sekali tidak belajar malam harinya.
*****
“KAMPRET! Si Vina udah dapet yang baru aja, secepat itu. Gue sakit hatik, Ndro. Sakit!”
“BHAHAHAHA elu, Vin. Cowok galau. Kayak nggak ada cewek lain yang bisa lu pacarin aja? Masih banyak ikan di laut, boy.. tapi nelayannya juga nggak kalah banyak sih. Hahaha..” Andro, teman main basket Vino, menertawai temannya begitu puas malam itu.
“Ah elu mah. Coba kalo lo jadi gue, gue yakin lo malah lebih parah. Bisa-bisa ngabisin satu gulung tisyu toilet tiap jam.”
“Ya terus sekarang masalahnya apa? Lo bubaran sama Vina udah lama, kan? Wajar dong kalo dia udah punya yang baru, artinya dia bisa move on. Nggak kaya lo.”
“Tapi dulu tuh, dia minta putus sama gue karna katanya dia pengen konsen buat UN, konsen les, konsen ini itu lah. Tapi nyatanya apa? Nyatanya dia malah pacaran, sekarang. Kalo emang pengen konsen gitu harusnya dia konsisten dong. Malah sekarang pacaran sama si ganjel pintu itu.”
“Weits.. woles bro, woles~ manusia itu berubah setiap saat. Vina kan satu les-lesan sama ganjel pintu itu. Mungkin aja karna faktor sering ketemu itu, jadinya suka gitu.”
“Tau deh, besok gue mau bolos aja.”
“Bhahaha.. sejak kapan lu berani bolos? Besok ada jam-nya Pak Narto loh.”
“…”
Sejak saat itu, hari-hari Vino terasa seperti neraka. Tiap masuk kelas, dia melihat Vina yang begitu ceria, cerianya masih sama seperti ceria saat mereka bersama, namun ceria Vina kali ini bukan karna Vino. Sampai suatu saat, ada tugas yang harus dikerjakan oleh 2 orang, dan Vino & Vina menjadi satu kelompok.

To be continue…


Hehehe, gimana? Dengan penuh harapan dan memelas, semoga kamu bersedia memberi komentar di komeng box. Satu komentar Anda menyelamatkan banyak jiwa. Thanks..

2 comments :

  1. Pengalaman ya mas bro...|bagus kok ceritanya aku tunggu part kedua

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada sih unsur pengalamannya. :D
      siap! secepatnya deh. ;)

      Delete