07 September 2012

Suatu Kamis Malam di Sosrowijayan

  2 comments

Kalian tau nggak kalau ternyata ada film Sex Is Zero 2? Hah? Apa? Udah tau ya? Wah, saya malah baru tau, kemarin di warnet deket kost-kostan saya, saya nemuin film itu.  Dan di warnet itu, filmnya behhh, bejibun guys! *bawa harddisk ke warnet*
Gang Sosrowijayan
sumber: panduanwisatajogja.com

Sore itu, kemarin, saya ke warnet dalam rangka pengen banget nonton video-nya StandUpPwt yang kemarin ditayangin di acara #1thnStandUpPwt. Hah! Komunitas yang sudi menerima kehadiran saya di tengah-tengah hangatnya kekeluargaan mereka, dan sempat mengajari saya bagaimana cara memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain, atau cara menjelaskan suatu hal yang sepele dengan jalan pikiran yang berbeda, lalu diolah sedemikian rupa sehingga bisa menciptakan lengkungan indah di bibir Anda atau bahkan menciptakan tawa sampai berbusa. Oke, ini kepanjangan, Crit.
            Dan juga dalam rangka menjenguk blog saya yang belakangan ini saya abaikan begitu saja. Untunglah blog ini masih sehat, ya walau agak sedikit berkarat, tapi alhamdulillah masih bisa dipakai. *senyum kuda* *cium layar monitor yang lagi nampilin dasbor blog*

Dan malamnya, waktu lagi asyik-asyiknya ngobrol sama pacar teman baru (cie, Ucrit punya temen baru, cie~) emm, teman kost maksud saya, tiba-tiba ada sms dari teman saya, sebut saja Raay-susunan nama diacak-dan isinya:
“Crit, lagi ngapain? Sarkem yuk?” #jengjeng!!! (dengan bahasa ngapak tentunya, tapi itu sudah saya translate, soalnya translator google pun akan kebingungan jika diperintahkan men-translate bahasa ngapak ke bahasa indonesia)

Kemudian saya berfikir, ini anak lagi gila apa gimana? Tiba-tiba ngajak ke Sarkem? Apa karna saking jomblonya sampai ngajakin saya buat nemenin dia ke Sarkem. Oya, for your information aja, Sarkem itu kependekan dari Pasar Kembang, salah satu pasar di Jogja. eh, bukan pasar sih, eh, iya juga ding. Ah, entahlah! Di situ, kamu nggak akan menemukan kembang, tapi kamu akan menemukan ‘kembang’. Dari yang masih seger-segernya, masih mekar, sampai yang sudah layu.

Setelah sekian lama saya meyakinkan diri saya bahwa saya baru saja diajak oleh teman saya untuk main ke Sarkem, inget lho ya, main, bukan ‘main’. Nggak pake tanda kutip tuh. Saya pun mengiyakan untuk menemani dia ‘main’ main ke sana. Padahal tadi tuh lagi asyik-asyiknya ngobrol sama teman baru.

Enggak sampe sepuluh menit (sekitar pukul 19.20-an), teman saya sampai di kost-kostan saya, lalu saya pamit sama teman baru saya dan cus. Eh di jalan, saya baru ingat kalau saya belum sholat ‘isya. Astaghfirulloh~ bego bener. -___-

20 menit kemudian, saya sampai di Jalan Pasar Kembang. Yuhuu~ kembang-kembang, kemarilah. Saya tangkap kalian, lalu saya bawa kalian ke pondok pesantren.

Sampai di Jalan Pasar Kembang itu biasa saja kok. Belum ada tanda-tanda para ‘kembang’ yang lagi mencari mangsa. Saya pikir, saya datang terlalu dini, waktu itu masih pukul 20.15-an. Karna saya bingung, akhirnya saya putuskan bertanya pada Google. Tadinya saya berniat bertanya pada tukang becak di pinggir jalan, tapi ah, gila, saya masih terlalu unyu untuk menanyakan hal tersebut pada tukang becak.

Ternyata di google juga banyak cerita-cerita mengenai Sarkem ini, coba saja kalian tuliskan “Sarkem” di google, maka akan banyak sekali cerita-cerita mengenai Sarkem di sana.

Setelah saya telusuri, akhirnya saya menemukan di mana sebenarnya para ‘kembang’ itu menunggu mangsa. Tempatnya ada di Gang Sosrowijayan (berseberangan dengan Stasiun Tugu). #jengjeng~ lalu saya dan teman saya memutuskan untuk memarkirkan motor kami di Stasiun Tugu. Hahaha! Saking bingungnya mau parkir di mana, akhirnya saya menyarankan untuk parkir di Stasiun Tugu saja, yang saya pikir akan aman-aman saja jika motor kami di parkirkan di situ, dari pada parkir di pinggir jalan yang nggak jelas gitu. Hehehe…

Saya masih tertawa dalam hati dan mengucap istighfar berkali-kali, ini pertama kalinya saya ke tempat beginian, tapi saya nggak mau ‘begituan’ lho.

Memasuki gang sempit, yang hanya pas saja jika dilalui orang 2 bocah yang masih unyu-saya dan teman saya- tiba-tiba ada petugas di situ yang menghentikan langkah kami.
“Dua ribu, Mas.”
“HAH? DUA RIBU ITU UDAH BISA ‘MAIN’ DAN BEBAS MILIH, PAK?!!?!?!!”
“Uang kebersihan, Mas. Kalo mau ‘main’ ya bayar sendiri.”
“….” Sambil menyerahkan uang.


Setelah membayar, kami langsung bergegas menelusuri gang itu, baru beberapa langkah dan…
“astaghfirulloh… astaghfirulloh… astaghfirulloh…” ucap saya dalam hati.

Baru beberapa langkah saja, kembang-kembang itu sudah berada di kanan-kiri saya, memandangi saya dengan tatapan ‘liar’. -___-

Ada yang sambil menghisap rokok, ada yang sambil dandan, ada yang sambil main hape, ada juga yang sambil ngangkang. Sumpah, saya malah takut waktu menelusuri gang-gang ini. Bukannya bernafsu, saya malah takut. Jantung saya berdebar 66x lebih cepat dari biasanya, ini karna takut.

Sosrowijayan ternyata memang sebuah desa, isinya ya rumah-rumah gitu, ada rumah warga biasa, ada rumah yang sudah disulap menjadi tempat karaoke, ada rumah yang sudah disulap menjadi tempat makan, ada rumah yang sudah disulap menjadi kamar-kamar tempat ‘begituan’, ada rumahnya PAK RT juga, dan yang saya kagumkan, ada sebuah masjid juga yang berdiri dengan indahnya di tengah-tengah tempat itu. Astaghfirulloh~
            Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika ada orang yang sedang khusyuk melaksanakan ibadah di masjid itu, tiba-tiba mendengar suara desahan dari rumah sebelah. Pasti pikiran orang yang sedang ibadah tadi jadi enggak karuan, dan ibadahnya? Entahlah.. -___-

Menurut cerita-cerita yang saya temukan lewat penelusuran di google, katanya mereka (yang bercerita) sampai di tarik-tarik oleh kembang-kembang yang ‘nongkrong’ di gang-gang itu. Tapi kok saya enggak ya? Saya aman-aman saja tuh (tapi tetap takut dan merinding sih). Apa mungkin muka saya masih terlalu unyu untuk jalan-jalan ke tempat begituan? Oh, iya. Mungkin begitu, jadi yang ada di benak ada kembang itu seperti ini: “Ini anak masih bau kencur ngapain mondar-mandir di depan ku sih? Mukanya kebingungan lagi, sini-sini aku nenenin aja” halah.. -___-

Waktu lagi merinding-merindingnya berjalan, saya menyaksikan bagaimana para lelaki hidung morat-marit melakukan tawar menawar lalu memasuki sebuah kamar, bersama Mbak-mbak. Wuh! Saya membayangkan apa yang terjadi pada Mas-mas yang masuk ke kamar bersama Mbak-mbak tadi, jangan-jangan Mbak-mbak tadi hanyalah seorang rekayasa, waktu buka celana, keluar batangnya. HAHAHAHAHA!!

Enggak sampai satu jam saya berada di tempat yang digunakan untuk mencari kenikmatan sesaat dan penuh dosa itu, saya sudah tidak kuat. Saya melambaikan tangan lalu dibantu oleh Mbak-mbak dan diajak ke kamar memutuskan untuk keluar dari tempat penuh dosa itu. Atmosfirnya benar-benar berasa, bernafas aja susah, mungkin kadar oksigen di tempat itu sudah turun menjadi 13%. Jahanam.

Setelah melewati gang keluar, saya tak lupa mengucap alhamdulillah.. Saya bisa selamat dari gang jahanam itu. Saya keluar dengan keadaan penuh keringat tentunya, tapi keringat ini hasil dari saya ketakutan dan deg-degan. Saya merasa kotor, lebih kotor dari pada ditimpukin 6 Kg eek kuda yang lagi hamil 6 bulan. Oh bumi, telanlah saya..

Lalu saya dan teman saya memutuskan untuk istirahat sebentar di Nol Kilometer. Saya pun terdiam sebentar dan HAHAHAHAHA EDYAN, BARUSAN SAYA ITU NGAPAIN? Saya tertawa bersama teman saya. Kami tertawa, dan masih tertawa. Sampai akhirnya kami merasa lapar dan memutuskan untuk makan di Taman Kuliner tempat biasa kami makan malam.

Di perjalanan pulang, emm, perjalanan menuju tempat makan lebih tepatnya, saya dan teman saya malah muter-muter. Harusnya belok kiri, eh malah belok kanan, jadinya muter jauh sekali. Mungkin karna saya dan teman saya iseng muter-muter Sarkem, lalu Tuhan mengisengi kami juga dengan cara memutar-mutarkan kami di Jogja. Ampuni aim ya Alloh…

Biasanya sih, ketika sedang kumpul bersama teman-teman saya, lalu ada yang dengan sengaja serta iseng mengajak main ke Sarkem, maka akan tercipta tawa. Ya entahlah kami menertawakan apa. Tapi setelah saya benar-benar ke tempat itu, mungkin ketika kumpul-kumpul lagi dan ada yang dengan sengaja serta iseng mengajak main ke sana, saya tak kan tertawa. Karna saya sudah tahu bagaimana ngerinya main ke sana.

Pesen saya buat kalian yang mau ke sana sih, emm, sekali aja deh kalo mau main ke sana, sekali dan jangan ke sana lagi, saya juga kapok. Sekali ke sananya itu juga cuma main loh, bukan ‘main’. (--,)

Dan jangan pernah mencoba ‘begituan’ di tempat ‘begituan’. Resikonya gede banget, Sob! Kamu mau kena HIV/AIDS hanya karna ‘main’ di situ? Anumu Hidupmu terlalu berharga kalau hanya untuk menikmati lubang-sempit-bekas-puluhan-orang di gang sempit itu! Tunggu masanya datang saja, nanti juga kamu dapet jatah tiap hari kok dari istri kamu. :)))

Akhir kata, udah ye, dah~

2 comments :

  1. Ya gan, njir di sana emang atmosfernya dikit banget, langsung kliyengan nih kepala

    ReplyDelete