29 September 2012

Review: Kata Hati - Sebutlah Itu Cinta

  No comments


Ini memang buku galau.
“Ini buku Kata Hati, Crit! Bukan buku galau.”
Oh, iya..

Sejak pertama kali saya tahu buku ini akan terbit, saya memang sudah dibuat galau terlebih dahulu. Galau mau beli, apa enggak. Masalahnya apa? Masalahnya duit saya cuma pas-pasan waktu itu, dan bukunya masih langka. Susah sekali ditemukan di toko buku – toko buku Purwokerto dan sekitarnya.

Judul : Kata Hati
Penerbit : Bukune
Tebal Buku : viii + 196 hlm
Cetakan : Pertama
Harga : Rp. 39.000,- (bonus tanda tangan sama foto bareng penulis. :p)


Ini tentang kisah kehilangan,
ketika kau mendapati separuh hatimu kosong dan merapuh.
Atas nama ketidakpercayaan,
kita telah saling mengucapkan selamat tinggal.

Teks di atas merupakan sebagian dari sinopsis buku ini. Iya memang, monyet banget, kampret! Kalo yang pernah ngerasain kehilangan, pasti nyeesss kalo baca itu.


Novel ini menceritakan tentang Randi (lelaki yang begitu sayang pada mantan pacarnya), Dera (mantan pacar Randi yang berkhianat pada Randi, yang begitu disayang Randi, dan yang menghancurkan hati Randi menjadi berkeping-keping) dan Fila (perempuan yang mempunyai senyum ceria dan menenangkan hati Randi). Emm, penjelasan tentang Dera berlebihan nggak sih? :p

Sudah lima tahun Randi dan Dera menjalin hubungan asmara. Randi yang begitu sayang pada Dera, tidak pernah mengacuhkan apa kata-kata temannya, bahwa Dera sering jalan dengan lelaki lain. Rasa sayang yang begitu besar membuat Randi tetap percaya pada Dera bahwa Dera tidak pernah melakukan itu.
            Tapi semua itu berubah saat negara api menyerang Irfan (sahabat Randi) menunjukan bukti bahwa Dera telah mengkhianati Randi. Saat itu, barulah Randi menyadari semua kebodohannya. Dan pada akhirnya, Randi memaksakan diri dan hatinya untuk mengakhiri hubungannya bersama Dera.
            Sebelumnya, Randi belum pernah begitu sayang pada seorang perempuan. Baru kali ini dia begitu menyayangi seorang perempuan. Semua itu karena Dera lebih ekspresif dalam menunjukan rasa sayangnya pada Randi. Dera selalu mendukung semua kegiatan-kegiatan Randi, menyemangati, dan memberinya suntikan energi setiap saat ia berada pada titik terendahnya.

Pada suatu saat yang tidak terduga, Randi bertemu dengan seorang perempuan yang begitu ceria. Fila namanya. Mereka bertemu di Djendelo Koffie saat berlangsungnya acara pameran foto yang diadakan oleh teman Randi (Laras―gebetan Irfan―).
            Tak dapat dipungkiri bahwa ternyata Randi tertarik pada Fila, perempuan manis yang mempunyai senyum begitu ceria. Baru kali ini Randi merasa ada yang berbeda pada senyum Fila, senyum yang bisa menenagkan hatinya.

Saat Randi sedang mencoba menikmati saat-saat awal bersama Fila dan mencoba mulai melupakan Dera, tiba-tiba Dera datang kembali ke kehidupan Randi. Dera datang secara tiba-tiba dengan penuh penyesalan. Dera ingin kembali pada Randi.
            Tapi tidak lama kemudian, Dera menyadari bahwa Randi sedang dekat dengan seorang perempuan. Setelah mencari tau, akhirnya Dera tau bahwa perempuan yang sedang dekat dengan Randi adalah Fila. Dan dengan sengaja, Dera mengajak Fila untuk ketemuan. Hanya mereka berdua.
            Dera menceritakan semua kenangannya yang ia alami bersama Randi. Mulai dari sering menghabiskan waktu bersama di Djendelo sambil menikmati coklat panas, menemani Randi hunting foto di Malioboro, dan masih banyak.
            Dan sampai akhirnya Fila menyadari bahwa Dera ingin lagi kembali pada Randi. Fila galau. Fila risau. Lalu bunuh diri Fila merasakan sesuatu berkecamuk di dalam hatinya. Lalu secara terang-terangan, Dera menantang Fila untuk berkompetisi mendapatkan hati Randi. #jengjeng!!

Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Bagaimana nasib Fila selanjutnya?
Siapakah pemilik Djendelo Koffie?

Mau tau kelanjutannya, beli bukunya hei! :))

Sebelum saya akhiri, saya punya beberapa kutipan dari Kata Hati. Mari kita simak!

“Cinta tak pernah berjalan mulus. Semakin panjang semakin rumit, semakin sulit pula menjaganya agar tak tumbang dihajar angin kencang, atau jatuh tersandung kerikil” – hlm 17

“Hati yang rusak memang mencintai kenangan, walau sadar di dalamnya banyak luka dan kekecewaan yang tak pernah sembuh. Itulah manusia, semakin sakit semakin ingat” – hlm 24

“Sesuatu yang membuatmu pergi, pada saatnya akan menjadi sesuatu yang membawamu pulang kembali” – hlm 29

“Cinta itu sendiri masalah” – hlm 56

“Rasa sakit atau hal-hal yang menyedihkan biasanya masih bisa ditutuoi oleh orang yang mahir menutupi perasaan, tetapi tak ada satu orang pun yang bisa menutupi kebahagiaan” – hlm 63

“Lebih baik menerima kenyataan pahit bahwa dia nggak memiliki rasa yang sama seperti kamu, daripada akhirnya kamu kehilangan dia tanpa pernah tahu bahwa kamu punya perasaan untuk dia” – hlm 87

“Menyimpan perasaan bisa menciptakan luka yang pelan-pelan dan tanpa ia sadari memakan harapan” – hlm 91

“Bukankah memberi jalan seseorang masuk dan tinggal di dalam hati kita juga berarti menyerahkan sepenuhnya kepadanya untuk merawat atau malah mengobrak-abrik hati” – hlm 114

Oh iya, sebelum benar-benar saya akhiri, saya punya sesuatu nih, taraaaa~:
Saya, Kata Hati, Bernad Batubara.

Tanda tangan eksklusif dari si penulis

Err, kenapa tulisannya “Jangan takut sampaikan kata hatimu” ya? -__-

Kalo mau tanya gratis kok, tulis saja di kolom komeng. Selamat malam minggu!

No comments :

Post a Comment